News  

MAKASSAR BUTUH BANYAK FLY OVER: Jangan Tunggu Kota Ini Berhenti Bergerak

Kita harus realistis bahwa flyover bukan obat untuk semua jenis kemacetan. Jika jalan setelahnya menyempit, persimpangan berikutnya tidak mampu menampung arus, atau pengaturan lalu lintas tidak diperbaiki, kemacetan hanya akan berpindah tempat. Bahkan, jalan layang dapat mendorong pertumbuhan perjalanan kendaraan pribadi sehingga kepadatan kembali meningkat.

Karena itu, flyover harus menjadi bagian dari kebijakan transportasi yang menyeluruh. Pemerintah perlu memperbaiki lampu lalu lintas, menertibkan parkir liar, mengendalikan hambatan di tepi jalan, memperbaiki manajemen persimpangan, menyediakan jalur pejalan kaki yang aman, dan mengembangkan angkutan umum yang nyaman serta terjangkau.

Kemacetan memang tidak seluruhnya berada dalam kewenangan Pemerintah Kota. Namun, hal itu bukan alasan untuk bersikap pasif. Pemerintah kota harus mengambil inisiatif, memimpin koordinasi, memetakan titik kemacetan, menghitung waktu tempuh, dan menyusun rencana induk penanganan yang terbuka kepada masyarakat.

Pembangunan flyover membutuhkan biaya besar, pembebasan lahan, rekayasa lalu lintas selama konstruksi, serta pemeliharaan jangka panjang. Justru karena itu, perencanaannya harus dimulai sejak dini. Jika flyover memang menjadi pilihan terbaik, pemerintah harus berani memperjuangkannya melalui koordinasi lintas pemerintahan dan perencanaan anggaran berkelanjutan.

BACA JUGA:  Peringati Hari Santri Nasional, Gubernur Kaltara Buka Turnamen Futsal Antar Pondok Pesantren

Makassar adalah pusat ekonomi, perdagangan, pendidikan, dan pelayanan di Sulawesi Selatan. Kelancaran lalu lintasnya penting bukan hanya bagi warga kota, tetapi juga bagi masyarakat dari berbagai daerah yang datang untuk bekerja, berusaha, belajar, dan memperoleh pelayanan.

Makassar membutuhkan flyover di banyak titik yang memang layak dan mendesak, bukan pembangunan sebanyak-banyaknya tanpa perhitungan. Yang dibutuhkan adalah infrastruktur tepat guna, pengelolaan lalu lintas yang disiplin, angkutan umum yang baik, dan kepemimpinan yang mampu menyatukan berbagai pihak.

Jangan menunggu antrean kendaraan semakin panjang, kerugian ekonomi semakin besar, dan warga semakin kehilangan waktu di jalan. Ketika sebuah kota kehilangan kemampuan menggerakkan warganya, yang terhambat bukan hanya kendaraan, melainkan juga kehidupan ekonomi, produktivitas, dan kenyamanan masyarakat.

Makassar butuh banyak flyover di tempat yang tepat. Makassar juga membutuhkan keberanian pemerintah untuk bertindak sebelum kemacetan berubah menjadi kelumpuhan kota.

Penulis, Direktur Utama PT Jalan Tol Seksi Empat Makassar Tahun 2025-2010, Pemerhati Masalah Transfortasi dan Anggota HPJI Sulsel.