News  

Kolaborasi Jatim-Kaltara Hasilkan Transaksi Rp 2,5 Triliun di Tarakan

“Semangat kebersamaan ini akan menjadi penopang bagi berbagai sektor, bukan hanya di bidang perdagangan dan ekonomi semata. Upaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif ini kita perjuangkan bersama. Tidak ada keberhasilan tunggal; makin luas jaringan, kolaborasi, dan sinergi, makin besar pula capaian yang bisa kita raih,” tuturnya.

Integrasi dunia usaha menjadi salah satu prioritas. Khofifah mendorong organisasi seperti Kadin, Iwapi, dan Hipmi di kedua provinsi agar lebih proaktif menjalin jejaring bisnis, berbagi info peluang pasar, serta menggembleng kualitas sumber daya manusia.

br

Keunggulan produk lokal Kaltara juga mendapat perhatian khusus, salah satunya sarang burung walet. Komoditas ini dinilai mempunyai prospek cerah untuk dipasarkan lebih luas memanfaatkan jalur perdagangan Jatim yang sudah terhubung dengan pasar mancanegara.

Jaringan bisnis Jawa Timur di wilayah seperti Hong Kong, Republik Rakyat Tiongkok, hingga Korea Selatan dapat dimanfaatkan sebagai jembatan ekspansi. Melalui jalur distribusi tersebut, komoditas lokal Kaltara diharapkan tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi mampu diolah hingga memberi nilai tambah yang lebih tinggi.

BACA JUGA:  Menyoal Problem Lingkungan dan Ketidakadilan Pada Air Bersih di Kota Makassar

Pada kesempatan berbeda, Gubernur Kaltara Zainal Arifin Paliwang menilai hasil transaksi ini sebagai titik balik penting dalam memupuk rasa optimistis para pelaku usaha. Lonjakan angka kesepakatan memancarkan sinyal bahwa ruang kerja sama antara Jatim dan Kaltara masih terbuka sangat lebar.

“Kami tentu optimistis bahwa capaian ini tidak berhenti di angka Rp 2,5 triliun. Harapannya nilai ini bisa terus bertambah dan menembus rekor yang lebih besar lagi,” ucap Zainal.

Keyakinan tersebut sudah terbukti lewat pencapaian akhir yang menembus angka Rp 2,507 triliun. Bagi pihak Kaltara, keberhasilan ini bukan sekadar pencapaian seremonial, melainkan modal berharga untuk membuka ketertarikan investasi dan arus perdagangan yang lebih luas.

Zainal menggarisbawahi bahwa Misi Dagang harus menjadi langkah berkelanjutan yang memicu kerja sama konkret. “Misi Dagang ini bernilai sangat strategis. Bukan sekadar ajang transaksi sesaat, melainkan pijakan nyata untuk memperluas investasi dan membangun relasi bisnis yang bertahan lama,” tegasnya.

Rekor Rp 2,5 triliun ini menegaskan bahwa pilar ekonomi Indonesia tidak hanya ditopang dari pusat, tetapi juga disokong oleh daerah-daerah yang berani membuka diri, membangun konektivitas, dan saling melengkapi. Jatim dan Kaltara telah membuktikan bahwa ketika potensi daerah bertemu dengan peluang yang tepat, angka transaksi dapat menjelmakan prospek baru bagi kesejahteraan masyarakat.

br
br