Sebelum meninggalkan Jl. Manuruki, kediaman mereka, keduanya sepakat berboncengan menunggang “honda” (sebutan sepeda motor di Bima). Operasi pelacakan alamat dilaksanakan pada hari Ahad sehabis pukul 12.00. Thib beralasan, pada pagi hari Ahad, biasanya mahasiswa itu mencuci pakaian. Nanti menjelang siang baru menjemurnya. Jadi, kalau setelah pukul 12.00, pakaian itu sudah bisa dilihat berkibar-kibar di depan rumahnya atau di tempat yang terkena sinar matahari.
“Honda” meluncur meninggalkan selatan kota ke utara kota
“Kamu lihat sebelah kiri, saya sebelah kanan,” titah Thib kepada Fuad beberapa saat kemudian, saat “honda” baru saja berbelok dari Jl. Sunu berbelok ke kanan memasuki Jl. Datuk Ri Tiro. Operasi pencarian alamat si cantik bermodalkan warna baju ini akan dimulai dari arah barat.
Sepanjang Jl. Datuk Ri Tiro mata Fuad menyapu semua halaman rumah warga di sebelah kiri. Thib sambil mengemudi “honda” juga menyisir rumah penduduk di sebelah kanan.
“Tidak ada Ustaz,” kata Fuad saat sepeda motor sudah tiba hampir mentok di ujung Jl. Datuk Ri Tiro.
“Sekarang kita balik dan bagi tugas. Fuad yang sebelah kanan, saya lagi sebelah kiri,” kata Thib kemudian mengubah arah ‘Honda’ bergerak dari timur ke barat. Berlawanan dengan arah pelacakan pertama.
“Honda” pun bergerak pelan lagi ke barat, membawa dua “dua pemburu alamat” yang aneh ini. (Karena mencari alamat bukan berdasar nama jalan dan nomor rumah, melainkan berpatokan pada kibaran pakaian pemilik rumah yang dijemur dan mudah terlihar, he..he..).
Saat menjelang “Honda” memotong Jl. Petta Ponggawa, Thib menghentikan tunggangannya karena matanya melihat “lambaian” baju yang “mencurigakan”.
“Fuad, bukan itu bajunya?,” Thib memberi tahu sahabat pelacak alamatnya itu setelah menghentikan “Honda” yang dikemudikannya. Thib melihat ada baju yang dikenalnya berkibar-kibar ditiup angin siang hari Ahad itu.
“Oh..iya, Ustaz,” jawab Fuad, diikuti Thib yang mengarahkan “Honda” menuju rumah, tempat pakaian yang dikenali itu dijemur.
“Assalam alaikum ww.,” Thib melempar salam, diikuti terdengar suara balasan dan jawaban salam dari dalam, disusul Thib mendengar orang berbisik keras.
“Tante, ada dosenku datang,” begitu suara perempuan yang ternyata sedang menonton TV kemudian bergegas menemui tantenya.
Thib dan Fuad pun masuk.
“Bagaimana Bapak bisa mengetahui alamat saya?,” tanya si mahasiswa mengetahui tiba-tiba saja dosennya muncul di depannya, padahal dia pernah meminta kepada siapa pun agar tidak membocorkan alamatnya.
“Saya ini memiliki keluarga jin. Dia-lah yang saya utus mencari alamat sebelum saya datang,” jawab Thib yang tentu saja membuat kian aneh bin ajaib si mahasiswa dan tantenya. Kalau Fuad sih sudah ‘tahu permainan” ini.












