News  

Kenangan Reuni Alumni UIN Alauddin di Bima : Dari Penjual Ikan Hingga Cerita Cinta

“Eee. kenapa penjual ikan sudah tahu nama saya, padahal saya baru datang? Dari mana dia tahu nama saya,” kata pemilik nama itu kepada Sarni. Pemicunya, penjual ikan tersebut menyebut “mairo”, yang di dalam bahasa Mbojo (Bima) dimaknai sebagai “marilah Ro”. Padahal, “mairo” dalam bahasa Makassar berarti ikan teri (bahasa Mbojo, uta mene).

Mendengar ‘curhat’ pemilik nama itu, temannya yang sudah lebih dulu tiba di Makassar menjelaskan duduk persoalannya. Barulah si pemilik nama itu maklum, dan para alumni yang mendengar kenangan tersebut terkekeh-kekeh. Cuma yang belum terkonfirmasi, apakah pemilik nama itu juga hadir di dalam acara reuni tersebut.

Testimoni yang disampaikan Prof. Ahmad Thib Raya, mungkin yang paling kocak dan mengundang tawa riuh para alumni sepanjang hampir satu jam alokasi waktu testimoninya. Satu yang saja yang Penulis kutip dari sekian banyak kisah humor dan berkadar pesan motivatif itu.

Prof. Thib Raya dilepas ke Makassar dengan hanya satu tujuan, menuntut ilmu.
“Saya sebenarnya dilarang oleh Guru (panggilan Prof. Thib terhadap ayahnya, TGKH Muhammad Hasan, B.A., Allah Yarham) karena ketiadaan biaya. Juga Guru selalu membandingkan ada orang Parado yang pergi bersekolah di Malang, pulang ke Bima tidak membawa gelar sarjana, tetapi hanya membawa pulang istri dan anak,” ujar Thib mengawali testimoninya.

BACA JUGA:  Kunjungi Booth Makassar di APEKSI, Aliyah Mustika Ilham: Makassar Tampil Adaptif dan Berbudaya

Katanya lagi, “ketika akhirnya Guru dengan rida melepas saya pergi ke Makassar, beliau memanggil saya ke kamarnya. Beliau hanya mengatakan, saya lepaskan Ananda untuk mencari ilmu, bukan untuk yang lainnya,” Thib bernostalgia.

Sejak itu, di benak Thib hanya ada satu frasa, menuntut ilmu. Pernah beberapa kali ada perempuan yang ‘berniat’ singgah di hatinya. Namun setiap Thib memandang perempuan tersebut selalu tergambar wajah Guru (ayahnya) di wajah sang gadis. Itu tanda larangan berpacaran. Begitulah kisah yang dialami Thib dengan seorang rekan mahasiswa perempuan yang sejak tingkat I hingga IV sudah ‘terpikat’ padanya.

Tetapi, ada seorang mahasiswa asal Soppeng yang paling cantik di kelasnya. Saking menjadi primadona kampus, sampai-sampai lembar demi lembar bajunya pun dihafal mati oleh para mahasiswa lainnya. Lebih khusus lagi, oleh para mahasiswa laki-laki. Waktu itu Thib sudah menjadi dosen di IAIN Alauddin. Thib ingin sekali mengetahui alamat si mahasiswa putri itu, tapi tampaknya dia sudah mewanti-wanti teman-temannya untuk tidak memberi tahu alamatnya kepada siapa pun. Termasuk kepada dosennya.

BACA JUGA:  Tim Volly PGRI Cabang Khusus, Jawara di Pangkep

Suatu hari, Thib berniat mencari alamat mahasiswa tersebut. Modalnya, mengingat warna baju yang biasa dipakai sang mahasiswa. Thib pun mengajak seorang teman kosnya, Fuad H.Abdul Gany (kini pensiunan Kemenag dan tinggal di Jakarta).