Leo kemudian mengenang momen awal mula tercetusnya gagasan Haul Akbar ini. Kala itu, selepas berziarah dan keluar dari kompleks makam bersama rekannya, Chandra, ia menatap bulan purnama yang begitu terang. “Gimana kalau kita bikin haul?” bisik Leo saat itu. Ide yang sempat membuat orang lain bingung—karena belum pernah ada yang melaksanakannya di Gowa—kini telah menjelma menjadi tradisi besar.
Sambil diiringi gemuruh Rampak Bedug dari tim Marawis Barombong, Leo menyampaikan refleksi mendalamnya:
Bukan Sekadar Agenda Seremonial
“Haul ini bukan sekadar mengenang Syekh Yusuf, tapi silaturahmi. Haul jangan formal, tidak perlu undang pejabat. Di Jawa, para pejabat tidak diundang, mereka datang karena merasa memiliki. Haul bukan agenda tahunan, tapi gerakan yang tertata dari Gowa untuk Indonesia.”
Pesan untuk Korps Adhyaksa
“Syekh Yusuf mengajarkan perjuangan berbasis akhlak. Ilmu bisa dicapai, tapi akhlak susah. Kedepan, tidak ada lagi jaksa korup!”
Cinta Budaya Lokal
Leo sempat menyentil soal pembangunan di Sulsel. “Masjid di Sulsel harus digambar oleh orang Sulsel. Saya sedih melihat Masjid 99 Kubah karena didesain oleh orang luar. Pejuang besar harus dijaga dengan hati.”
Rencana Masa Pensiun
Mengingat jejak Syekh Yusuf di Afrika Selatan, Leo mengungkapkan impian pribadinya. Jika kelak pensiun, ia ingin terbang ke Afrika Selatan dan mengabdikan dirinya untuk membantu siapa saja yang membutuhkan.
Cinta yang Mengakar
Leo mengungkapkan sebuah pertanyaan yang pernah ditanyakan padanya tentang kehidupan kedua. “Jika ada kehidupan kedua dan saya ditanya mau jadi apa, saya mau jadi orang Sulsel, karena saya sangat cinta Sulsel.”
Di akhir arahannya, Leo menyampaikan harapan besar agar Haul Akbar Syekh Yusuf ini dapat dijadikan Peraturan Daerah (Perda) dan ditetapkan sebagai hari libur resmi daerah, agar seluruh masyarakat dapat merayakan warisan sang wali.
Sebab bagi Leo dan ribuan jamaah yang hadir hari itu, Syekh Yusuf bukan sekadar tokoh sejarah yang tertulis di buku teks, melainkan “tokoh kehidupan” yang warisannya harus terus dihidupkan—dari Gowa, untuk Indonesia, hingga ke ujung dunia. ( Ardhy M Basir )












