Trump menyebutkan, dia akan segera memulai perombakan sistem perdagangan AS untuk melindungi pekerja dan keluarga Amerika.
“Alih-alih mengenakan pajak kepada warga negara kami untuk memperkaya negara lain, kami akan mengenakan tarif dan mengenakan pajak kepada negara asing untuk memperkaya warga negara kami,” Trump menegaskan.
Pidato Trump ini mengindikasikan pemberlakuan tarif dan pajak berkaitan dengan transaksi perdagangan global. Boleh jadi, semua barang ekspor dari berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia, akan dikenakan tarif dan pajak yang akan memperkaya warga Amerika. Naiknya tarif dan pajak ini jelas akan memengaruhi struktur ekonomi global, lebih khusus lagi bagi negara-negara eksporter termasuk Indonesia
Ketika berkampanye pada pemilihan presiden 2024, Trump mengancam akan menaikkan tarif barang impor yang masuk ke Amerika antara 10-20%, Dari sisi Indonesia, barang ekspor yang masuk ke negara itu mencakup produk unggulan mesin dan peralatan listrik, garmen, lemak dan minyak hewan (nabati), alas kaki, dan produk hewan air. Nilai ekspor Indonesia pada tahun 2022 mencapai US$ 28,2 miliar dan turun menjadi US$ 23,3 miliar pada tahun 2023.
Berkaitan dengan masalah pertahanan, Donald Trump menyebutkan, angkatan bersenjata AS akan bebas untuk fokus pada satu-satunya misi mereka: mengalahkan musuh-musuh Amerika. Seperti pada tahun 2017, AS akan kembali membangun militer terkuat yang pernah ada di dunia.
“Kita akan mengukur keberhasilan kita tidak hanya dari pertempuran yang kita menangkan tetapi juga dari perang yang kita akhiri. Dan mungkin yang terpenting, perang yang tidak pernah kita ikuti,” sebut Trump.
Pernyataan Trump berimplikasi ganda, sebagaimana prinsip bermata dua negara “super power” tersebut. Amerika Serikat selama ini sebenarnya tidak memiliki musuh yang nyata, kecuali masih berlangsungnya perang dingin dengan sejumlah negara kompetitornya, seperti Rusia, Tiongkok, Korea Utara, Iran, dan Kuba.
Persaingan AS dengan negara-negara tersebut terlihat ketika Israel melancarkan ofensifnya terhadap Palestina dan Gaza 7 Oktober 2023. Secara nyata Amerika tidak terlibat langsung dalam peperangan tersebut, namun memasok Israel dengan berbagai kebutuhan senjata untuk menghabisi rakyat Palestina yang kini sudah mencapai 46.000 berdasarkan data pejabat Kesehatan Palestina. Jumlah itu sekitar 20% dari total populasi 2,3 juta jiwa penduduk sebelum perang 7 Oktober 2023 itu. Namun sekitar 59,1% korban tewas terdiri atas perempuan, anak-anak, dan orang yang berusia di atas 65 tahun.
Salah satu bagian dari pidato Donald Trump yang menggembirakan warga Palestina dan umat Islam khususnya adalah perhatiannya terhadap gencatan senjata yang dimulai Ahad (19/1/2025).
“Warisan saya yang paling membanggakan adalah menjadi pembawa damai dan pemersatu. Itulah yang saya inginkan – pembawa damai dan pemersatu. Saya senang menyampaikan bahwa sejak kemarin, sehari sebelum saya memangku jabatan, para sandera di Timur Tengah telah kembali ke rumah untuk bertemu keluarga mereka. Terima kasih. Amerika akan mendapatkan kembali tempatnya yang semestinya sebagai negara yang paling hebat, paling berkuasa, dan paling dihormati di dunia, yang akan membangkitkan rasa kagum dan kekaguman seluruh dunia,” kata Donald Trump.
Mudah-mudahan ini merupakan pertanda baik langkah yang akan diambil Presiden Donald Trump untuk menciptakan perdamaian dunia yang abadi. Bukan sebuah justifikasi atas berlangsungnya gencatan senjata atas usaha Presiden Joe Biden sehari sebelum mengakhiri masa jabatannya. Atau boleh jadi, ini hadiah awal Donald Trump kepada rakyat Gaza dan Palestina sebelum resmi menjabat Presiden AS empat tahun ke depan.
Tampilnya Amerika sebagai negara pendamai ini, tidak saja bagi perdamaian Timur Tengah, tetapi juga di berbagai belahan bumi ini, tempat Amerika Serikat secara tersamar dituding terlibat langsung atau pun bermain di belakang layar. (M.Dahlan Abubakar).












