Prof. Wahyuddin mengambil sesi berikutnya dengan terlebih dahulu menyampaikan terima kasih kepada panitia dan para dosen yang telah mengundangnya untuk hadir dalam forum diskusi ini. Tema yang diberikan kepada saya cukup menarik, yaitu mengenai peran spiritualitas agama-agama dan kearifan lokal dalam mengatasi krisis lingkungan. Dalam diskusi ini saya lebih tertarik menggunakan istilah ekologi dibandingkan sekadar lingkungan. Ucap Prof.Wahyu
Ekologi berbicara tentang hubungan dan interaksi antar makhluk hidup, terutama hubungan manusia dengan sesama makhluk hidup dan dengan keseluruhan sistem kehidupan di bumi. Sementara istilah lingkungan sering kali lebih merujuk pada kondisi fisik yang mengelilingi kehidupan manusia.
Krisis yang kita hadapi hari ini sesungguhnya bukan hanya krisis lingkungan, tetapi krisis ekologi. Artinya, yang terganggu bukan sekadar kualitas udara, air, atau tanah, melainkan keseluruhan jaringan relasi kehidupan yang menopang keberadaan manusia. Sambung Prof.Wahyu
Krisis ini semakin serius, karena proses kerusakan yang terjadi sudah mendekati titik yang sulit dipulihkan, tegasnya.
Ironisnya, sebagian besar kerusakan ekologis justru terjadi di negara-negara berkembang di belahan bumi selatan. Berbagai sumber daya alam yang menopang kemajuan negara-negara industri berasal dari kawasan-kawasan tersebut. Mineral, logam, hasil hutan, energi, hingga berbagai komoditas pertanian, dieksploitasi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat di negara-negara maju.
Akar krisis lingkungan sesungguhnya adalah krisis paradigma.
Kerusakan ekologis berawal dari cara manusia memandang dirinya sendiri, memandang alam, dan memahami tujuan keberadaannya di dunia.
Pandangan ini telah lama dikemukakan oleh sejumlah pemikir lingkungan. Salah satunya adalah Lynn White Jr., yang dalam esainya yang sangat berpengaruh, The Historical Roots of Our Ecologic Crisis, menyatakan bahwa krisis lingkungan memiliki akar yang jauh lebih dalam daripada sekadar persoalan teknologi. Menurutnya, krisis ekologis berakar pada persoalan spiritual, filosofis, dan keagamaan.
Pandangan tersebut memiliki resonansi yang kuat dengan ajaran agama, khususnya dalam Islam. Al-Quran sejak awal telah mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan di laut merupakan akibat dari perbuatan manusia. Dengan demikian, krisis lingkungan bukanlah sesuatu yang hadir secara kebetulan, melainkan konsekuensi dari kegagalan manusia menjalankan amanahnya sebagai khalifah di bumi.
Seperti biasa diskusi ini dihadiri oleh peserta dari beragam kelompok, dari Aparatur Sipil Negara, Aktivis Lingkungan, Akademisi, Mahasiswa dan pelaku usaha UMKM. (WHY)












