Salah satu ayat yang paling sering dikutip adalah firman Allah dalam Surah Ar-Rum ayat 41:
“Telah tampak kerusakan di daratan dan lautan, akibat perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali ke jalan yang benar.”
Menurut pahaman saya, ayat ini sesungguhnya telah berbicara pada level paradigmatik. Ketika Al-Quran menyatakan bahwa kerusakan terjadi karena ulah tangan manusia, maka yang dimaksud bukan semata-mata tindakan fisik manusia. Namun, Firman Tuhan ini menunjukkan bahwa manusia telah gagal menjalankan tugas kosmiknya sebagai khalifah di bumi, yaitu menjaga, merawat, dan memelihara keseimbangan ciptaan Allah.
Dengan perspektif ini, krisis ekologis dan lingkungan hidup bukan sekadar persoalan pencemaran air, udara, atau tanah. Krisis lingkungan sesungguhnya adalah krisis paradigma. Alam rusak karena manusia kehilangan kesadaran akan tugasnya sebagai khalifah yang bertanggung jawab menjaga harmoni serta keseimbangan ciptaan Tuhan. Itulah sebabnya Seyyed Hossein Nasr berpandangan bahwa krisis ekologis dan pelbagai jenis kerusakan di bumi yang telah berlangsung beberapa abad lamanya, berakar pada krisis spiritual dan eksistensial manusia modern pada umumnya. Sambung Muttaqin.
Prof. Wahyuddin mengambil sesi berikutnya dengan terlebih dahulu menyampaikan terima kasih kepada panitia dan para dosen yang telah mengundangnya untuk hadir dalam forum diskusi ini. Tema yang diberikan kepada saya cukup menarik, yaitu mengenai peran spiritualitas agama-agama dan kearifan lokal dalam mengatasi krisis lingkungan. Dalam diskusi ini saya lebih tertarik menggunakan istilah ekologi dibandingkan sekadar lingkungan. Ucap Prof.Wahyu
Ekologi berbicara tentang hubungan dan interaksi antar makhluk hidup, terutama hubungan manusia dengan sesama makhluk hidup dan dengan keseluruhan sistem kehidupan di bumi. Sementara istilah lingkungan sering kali lebih merujuk pada kondisi fisik yang mengelilingi kehidupan manusia.
Krisis yang kita hadapi hari ini sesungguhnya bukan hanya krisis lingkungan, tetapi krisis ekologi. Artinya, yang terganggu bukan sekadar kualitas udara, air, atau tanah, melainkan keseluruhan jaringan relasi kehidupan yang menopang keberadaan manusia. Sambung Prof.Wahyu
Krisis ini semakin serius, karena proses kerusakan yang terjadi sudah mendekati titik yang sulit dipulihkan, tegasnya.
Ironisnya, sebagian besar kerusakan ekologis justru terjadi di negara-negara berkembang di belahan bumi selatan. Berbagai sumber daya alam yang menopang kemajuan negara-negara industri berasal dari kawasan-kawasan tersebut. Mineral, logam, hasil hutan, energi, hingga berbagai komoditas pertanian, dieksploitasi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat di negara-negara maju.













