Menghidupkan Kalamullah dalam Jemari: Asa Baru Sahabat Tunanetra Makassar Belajar Al-Qur’an Braille

“Di Indonesia Timur, wadah rutin pembelajaran Al-Qur’an Braille terbilang masih sangat minim. Kolaborasi ini memberikan ruang alternatif bagi teman-teman tunanetra di luar sana yang ingin belajar tapi selama ini tidak tahu harus mencari tempat ke mana,” jelas Heriansyah. Ia pun berharap program serupa nantinya tidak hanya berpusat di Makassar, melainkan bisa meluas ke berbagai kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.

Bukan Sekadar Pelatihan, Ini Langkah Kesetaraan

br

Sementara itu, Dewan Pembina Gammara Inklusi, Rahmat J., mengingatkan bahwa esensi dari kegiatan ini melampaui sekadar transfer ilmu membaca teks keagamaan. Pelatihan ini adalah gerakan advokasi pemenuhan hak atas akses keagamaan yang setara.

“Pelatihan ini bukan sekadar belajar membaca Al-Qur’an Braille. Lebih dari itu, ini adalah ikhtiar kita bersama untuk menghadirkan akses yang setara bagi teman-teman tunanetra agar mereka bisa semakin dekat dengan Kalamullah,” tegas Rahmat J. yang menutup sambutannya dengan sebuah pantun bernada reflektif.

Kegiatan ini membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan tidak sedikit pun menyurutkan langkah para difabel netra untuk mendekatkan diri pada spiritualitas. Melalui ketukan jemari di atas lembaran Iqra’ Braille, seberkas cahaya literasi keagamaan yang inklusif sedang dinyalakan dengan benderang dari sudut kota Makassar pada Ahad ini, siap menuntun para peserta di pekan-pekan selanjutnya, insya Allah

brbr
BACA JUGA:  Prodi Ilmu Komunikasi Unismuh Makassar Jadikan Timbuseng Gowa Desa Binaan
brbr
br