Jembatan Putus Menghilangkan Nyawa Manusia

Oleh: Subagusa Rumain (Aktivis Pemuda SBT)

NusantaraInsight, Makassar — Pada tanggal 10 Juli 2025 lika-liku perjuangan tenaga kesehatan (nakes) Seram Bagian Timur semakin sulit, jika neoliberalisme mencengkeram Indonesia, maka saat ini sedang dialami oleh masyarakat se-kabupaten seram bagian Timur (SBT).

Adalah pemerintah membajak suara kemanusiaan salah satu example yang paling sering dikeluhkan masyarakat terkhusus di kecamatan Kelimury dan sekitarnya bahwa pemenuhan pembangunan infrastruktur berupa jalan raya dan jembatan sampai saat ini belum juga diwujudkan oleh Pemda SBT.

Pertanyaan sederhana sebenarnya apa sih alasan pemimpin untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya, apa berbicara proposal proyek pembangunan yang kemungkinan memakan biaya pembangunan atau apa sih, kendalanya pemerintah SBT dalam jargon Gercep (gerak cepat) konsep dari gerak cepat ini uang, maka bagaimana wujudnya di masyarakat, apa iya harus sesuai Standar Operasional Pemerintah baru bisa di laksanakan pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan.

Terkadang pemerintah sering juga melakukan perhitungan kecil-kecil dengan warga masyarakatnya, dari kejadian yang cukup ekstrem dan viral di beberapa media sosial, baik itu, Instagram, Facebook, Tiktok, dan bahkan media Tv, media berita online bahwa ada salah satu warga yang sakit dan dirujuk ke kota kabupaten untuk dilakukan pemeriksaan dan pelayanan kesehatan lebih intensif kepada pasien tersebut, akan tetapi di persimpangan perjalanan pasien dengan roda 4 menuju kota kabupaten sedikit terkendala akibat jalan tidak bagus, belum lagi air sungai meluap (Banjir) mengakibatkan para pejuang tenaga kesehatan (nakes kelimury) kewalahan untuk mengatasi masalah itu.

BACA JUGA:  Drs.Basman Lantik Ketua-Ketua Bidang PGRI Kota Palopo, Ini Namanya

Pasien yang sakit terpaksa harus ditandu dari seberang sungai menuju ke seberang untuk segera dilarikan ke kota kabupaten RSUD kota Bula. Ya tentu ini sangat urgen untuk Pemda SBT segera mungkin mengambil sikap dan langkah tegas dalam menyelesaikan kebutuhan dan persoalan di tengah kehidupan masyarakat yang masih jauh dari kemegahan cahaya lampu jalan raya, karena secara sadar bahwa aset terbesar pemerintah daerah kabupaten SBT yang paling utama adalah MANUSIA nya, maka untuk itu kami berharap supaya Pemda SBT dengan tidak menutup kedua matanya dan membuka tabir kepalsuan itu dari pemerintah untuk rakyat, bukan dari pemerintah untuk kelompok pemerintah.

Bukan saja baru kali ini problem itu muncul dipermukaan bumi SBT, tapi sudah sering dan bahkan pertarungan nyawa para tenaga kesehatan di pelosok negeri, yang harus menyeberangi lautan, menghadapi badai, hujan, panas terik matahari, angin berhembus kencang seakan menolak para pejuang kemanusiaan di pelosok negeri sana.