Gaji Rendah, Semangat Kinerja Damkar SBT Terhambat

NusantaraInsight, Makassar —  Sebuah informasi yang beredar di media sosial Instagram @infosbt dan juga di laman berita TribunNetwork Maluku, bahwa terjadi ketidaksetaraan keadilan terhadap gaji Petugas Damkar Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT).

Gaji pegawai Damkar sangat rendah yaitu 750 ribu per bulan diterima, dan juga petugas mengaku bahwa tak punya perlengkapan mandi. Ini sangat konyol dan lucu bagi pemerintah di SBT, dan kejadian seperti ini sangat di sayangkan terjadi di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT).

Lagi-lagi persoalan yang datang dari Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) SBT, kini menyita sejumlah perhatian publik. Kejadian fenomenal baru terjadi atau bahkan sudah terjadi sejak dulu namun baru memunculkan dan memanas di media sosial dan netizen SBT. Ada apa dengan kinerja pemerintahan SBT yang gagal mengurus atau mengelola sumberdaya yang ada itu dengan baik.

Ketidaksetaraan dan keadilan sosial yang terjadi di Kabupaten Seram Bagian Timur SBT, utamanya bagi petugas Damkar ini jangan dibiarkan berlarut-larut begitu saja oleh pemerintah.

BACA JUGA:  Ini Tiga Program Kerja Ranting Aisyiah Biring Romang Selama Ramadhan 1445 H

Pemerintah harus segera membenahi itu, agar memberikan hak upah atau komisi terhadap para pegawai atau petugas yang disatuan Damkar SBT.

Pemerintah tahu atau mungkin pura-pura mengetahuinya problem yang terjadi dilapangan, apa mungkin ini soal gimik pemerintah menganggap Damkar ini hanya sebuah alat yang dikerahkan ke medan manapun tanpa dipikirkan oleh pemerintah, bagaimana para petugas damkar berjuang dari kobaran api yang menyala, mereka (Dampak) mempertaruhkan nyawa sekalipun jika ada musibah kebakaran.

Apalagi beberapa bulan kemarin terjadi kebakaran di kota Bula, Dimana petugas Damkar bergerak cepat dalam memadamkan kobaran api yang menyala, walaupun tidak bisa diselesaikan secara harapan masyarakat agar rumah yang dilahap itu dapat dipadamkan apinya tapi takdir berkata lain bahwa kurangnya fasilitas Damkar SBT, untuk dapat meminimalisir semua itu agar tidak terjadi lagi dikemudian hari.

Kami meminta kepada pemerintah dalam hal ini setiap stakeholder harus berkolaborasi untuk bekerja sama menyelesaikan problem di masyarakat salah satunya adalah masalah Dampak upah yang diterima per bulan itu sangat rendah.

BACA JUGA:  Orientasi dan Integritas Perguruan Tinggi Dipersoalkan

Pemerintah wajib memberikan komisi atau insentif upah yang setara atau minimal dengan gaji UMR, di kabupaten Seram Bagian Timur. Ini-kan lucu kalau sampai dibiarkan penyakit kerakusan dan ketamakan individual di parlemen pemerintahan, khawatirnya akan terus berulang sampai seterusnya.

“Mungkin hari ini terjadi di Damkar eso-eso mungkin kembali terjadi di struktural yang lain, atau bisa saja terjadi kepada pendidik anak murid di SBT sana, tidak menutup kemungkinan apalagi status sebagai honorer pasti merasakan hal yang sama tapi tidak disuarakan secara transparan.”

“Sangat disayangkan bahwa model pemberian upah kerja itu seperti ini, atau mereka para kaum kekuasaan itu seng paham dalam mengelola keuangan dan menyalurkan hak pegawai yaitu Damkar”.

Damkar ini salah satu unit yang bekerja tampak batas, mereka jga bisa disebut sebagai garda terdepan ya mungkin kita tidak meminta ada kebakaran tapi kontribusi mereka para damkar ini menjadikan manusia yang paling berharga.

Kami mendesak pemerintah yang saat ini dipimpin oleh Bupati dan wakil bupati segera membenahi problem yang marak saat ini di SBT.

BACA JUGA:  Dosen STAI Al-Gazali Beri Dua Jempol Kajian Ramadhan Ilmiah Muslimah FMDKI Bulukumba

Berikan hak mereka (Damkar) jangan membuat mereka menangis meratapi perjuangan dan loyalitas mereka bertugas. ini soal kemanusian atau masyarakat yang belum adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan, harus dibuatlah satu indikator atau regulasi yang secara tersistematis untuk mengatur dan memberikan hak yang setara dengan nominal UMR di SBT.