PDAM Makassar Bergerak Salurkan 4,56 Juta Liter Air Bersih untuk Masyarakat

Menurut Nurmal, pendekatan tersebut menunjukkan perubahan cara pandang dalam pelayanan publik. Bukan hanya menunggu masyarakat mendatangi titik distribusi, tetapi menghadirkan layanan lebih dekat dengan warga.

“Logikanya sederhana, kalau warga sulit mendatangi air, maka air yang harus mendatangi warga,” kata Nurmal.

Ia mengatakan, kondisi Kota Makassar tidak hanya ditentukan oleh kawasan jalan protokol, gedung tinggi, maupun pusat bisnis.

Di balik itu, terdapat lorong-lorong sempit yang menjadi ruang hidup masyarakat sekaligus menghadapi persoalan pelayanan dasar, termasuk kebutuhan air bersih.

Karena itu, penggunaan kendaraan pengangkut air berukuran lebih kecil dinilai menjadi bagian penting dari strategi distribusi di kawasan yang sulit dijangkau mobil tangki berukuran besar.

“Kendaraan ini bisa menyusuri lorong-lorong yang sulit dijangkau kendaraan besar,” ujarnya.

Nurmal menilai, substansi inovasi tersebut bukan semata-mata terletak pada bentuk kendaraan yang digunakan, tetapi pada pendekatan pelayanan yang menempatkan akses warga sebagai pertimbangan utama.

Menurutnya, pelayanan publik tidak selalu harus menunggu masyarakat datang. Dalam kondisi tertentu, pemerintah dan penyelenggara layanan justru perlu mendatangi masyarakat yang membutuhkan.

BACA JUGA:  Pembangunan Stadion Untia Dikebut

“Pelayanan publik tidak selalu harus menunggu warga datang. Sesekali pemerintah yang harus mendatangi warga,” katanya.

“Ukuran sederhana sebuah inovasi publik bukan seberapa canggih namanya, tetapi seberapa dekat manfaatnya dengan warga,” tambah Nurmal.

Nurmal berharap pendekatan pelayanan tersebut dapat terus diperkuat selama kondisi kemarau berlangsung, sembari tetap dibarengi pembenahan jaringan dan penguatan sistem penyediaan air bersih secara berkelanjutan.

“Sebab kota yang baik bukan hanya kota yang punya jalan besar, tetapi juga kota yang pemerintahnya mau masuk ke jalan-jalan kecil tempat warganya hidup,” tandasnya. (*)