Sementara itu, untuk jangka panjang, pihaknya akan fokus pada pengelolaan dan optimalisasi sumber air baku di berbagai titik.
Termasuk melakukan evaluasi terhadap jaringan pipa distribusi yang berpotensi mengalami kebocoran atau tidak berfungsi maksimal.
Dikatakan, secara teknis, ada kemungkinan kebocoran pipa atau distribusi yang tidak optimal. Tapi dari hasil sementara, penurunan debit air baku menjadi faktor utama.
“Saat ini debit sempat turun, meski setelah hujan sudah mulai meningkat dari di atas 100 menjadi sekitar 300, dengan kondisi normal seharusnya berada di kisaran 400,” paparnya.
Selain itu, PDAM Makassar juga memastikan tetap memberikan bantuan air bersih kepada masyarakat yang belum menjadi pelanggan, melalui mobil tangki maupun penyediaan tandon di tingkat RT/RW.
“Ini bagian dari fungsi sosial kami. Walaupun bukan pelanggan, tetap kami bantu agar kebutuhan dasar air bersih masyarakat tetap terpenuhi,” ungkapnya.
Dalam menghadapi potensi musim kemarau yang diprediksi mencapai puncaknya pada Juni hingga Agustus berdasarkan informasi BMKG, PDAM Makassar juga telah menyiapkan langkah antisipatif.
Di antaranya dengan memperkuat kerja sama lintas stakeholder, menyiapkan pompa tambahan di beberapa titik, serta mendukung program penyediaan sumber air alternatif seperti sumur bor.
“Kami sudah siapkan berbagai skenario, termasuk distribusi melalui mobil tangki, penambahan pompa, hingga kerja sama dengan BPBD dan pemerintah provinsi dalam penyediaan sumber air baru,” beber Andi Syahrum.
Di sisi lain, PDAM Makassar juga tengah melakukan penanganan kebocoran pipa di sejumlah titik.
Salah satunya di Jalan Perintis Kemerdekaan Km 16.
Tepatnya di Jembatan Pai, yang berdampak pada terganggunya suplai air di beberapa wilayah seperti BTN Kalamang, BPS, Jalan Goa Ria, hingga Hotel Dalton. Pengerjaan tersebut dilakukan selama 1×24 jam sebagai bagian dari upaya pemulihan layanan distribusi air.
Terkait keluhan warga di wilayah Kerung-kerung. Pihak PDAM menegaskan bahwa persoalan tersebut disebabkan oleh turunnya debit air baku dari Instalasi Pengolahan Air (IPA) 2.
Informasi tersebut sebelumnya juga telah disampaikan kepada masyarakat sebagai bentuk transparansi.
Seluruh langkah yang dilakukan merupakan bagian dari kerja kolektif internal PDAM Makassar tanpa adanya sekat kelompok.
“Semua adalah bagian dari PDAM. Kami bekerja bersama untuk mencapai tujuan perusahaan, yaitu pelayanan dan fungsi sosial yang tetap berjalan memastikan pelayanan air tetap berjalan,” tutupnya. (*)













