Program yang didanai sepenuhnya dari dana zakat, infak, dan sedekah yang terkumpul dari para muzaki di Kota Makassar ini, jelas Ashar Tamanggong, merupakan bagian integral dari upaya BAZNAS Makassar dalam mengentaskan kemiskinan, dan meningkatkan kesejahteraan umat.
“Tentunya, kami menyadari bahwa, memiliki tempat tinggal yang layak adalah hak dasar setiap individu. Banyak saudara-saudara kita yang masih menempati rumah dengan kondisi memprihatinkan, yang tentu saja berdampak pada kesehatan, kenyamanan, dan martabat mereka,” jelasnya.
Meski demikian, jelas ATM—sapaan akrab HM. Ashar Tamanggong, rumah-rumah yang menjadi sasaran program Rutilahu BAZNAS Makassar sebelumnya telah melalui proses survei, dan verifikasi ketat untuk memastikan bahwa, penerima manfaat benar-benar adalah mustahik yang memenuhi kriteria syar’i dan sangat membutuhkan.
“Program rumah tak layak huni bagi mustahik yang memiliki kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dasar syarat rumah layak huni. Hanya saja, harus memiliki alas hak, dibuktikan dengan sertifikat hak milik. Jika masih menjadi milik orang tua dengan beberapa anak, perlu mendapat persetujuan keluarga. Mengapa? Ya, karena BAZNAS tidak boleh salah, dan tidak boleh gegabah, melainkan betul betul tepat sasaran,” tegasnya.
ATM menyebut, program perbaikan rumah tidak layak huni ini bukan hanya sekadar memberikan bantuan fisik, tetapi juga memberikan harapan baru, dan motivasi bagi para mustahik untuk menjalani hidup yang lebih baik.
Keberhasilan program ini tak lepas dari kepercayaan muzaki dan partisipasi aktif masyarakat Kota Makassar dalam menyalurkan zakat, infak, dan sedekah melalui BAZNAS Makassar.
Alasan inilah maka, BAZNAS Makassar mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mendukung program-program sosial kemanusiaan ini agar tercipta kesejahteraan yang merata bagi seluruh mustahik di Ibukota Sulawesi Selatan ini.
“Perlu diingat juga, BAZNAS Makassar juga berharap, jika selesai dibangun, keluarga di sini dapat lebih fokus dalam beribadah, mencari nafkah, dan mendidik anak-anak mereka di lingkungan yang lebih baik. Doakan juga kepada para muzaki, utamanya para ASN dan guru guru muslim di Pemkot Makassar yang telah menyetor ZIS-nya melalui BAZNAS Makassar. Selain ASN muslim, ada pula dari UPZ masjid, dan orang perorang lainnya,” harapnya.
ATM melihat, inisiatif BAZNAS Makassar dalam membangun rumah layak huni adalah contoh nyata bagaimana nilai-nilai keagamaan, yang pada intinya mengajarkan kepedulian dan kasih sayang, dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata yang berdampak besar.
“Sebuah rumah bukan hanya empat dinding dan atap, melainkan adalah simbol keamanan, privasi, dan awal dari kehidupan yang lebih baik. Sebab, dengan memiliki rumah layak, keluarga dapat membangun kembali martabat mereka, anak-anak dapat belajar dengan lebih baik, kesehatan keluarga meningkat, dan lingkaran kemiskinan dapat diputus,” jelas mantan Ketua Lembaga Dakwah NU Kota Makassar kelahiran Kabupaten Takalar ini.
ATM juga menegaskan, keseluruhan program BAZNAS, apapun namanya, tentunya selain merujuk pada delapan golongan penerima fakir, miskin, amil, mualaf, riqab, gharimin, fisabilillah, dan ibnu sabil, juga merujuk pada 3A, yaitu Aman Syar’i, Aman Regulasi, dan Aman NKRI.
Sebelum menutup komentarnya, ATM menyampaikan terima kasih kepada seluruh ASN dan guru guru muslim di Pemerintah Kota Makassar, para pengusaha, dan dermawan yang berzakat, berinfak, dan bersedekah di BAZNAS Makassar. “Berzakat’ki Salama’ki. Zakat itu MULIA, MULIA Muzakkinya, MULIA Mustahiknya,” tutup ATM.












