Selama ini, sejumlah perangkat daerah memiliki aplikasi layanan masing-masing. Melalui Lontara+, berbagai layanan tersebut diarahkan untuk terintegrasi dalam satu platform.
“Selama ini SKPD memiliki aplikasi sendiri-sendiri. Lontara+ menyatukannya dalam satu genggaman, dengan fitur yang bisa terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat,” katanya.
Menurut Munafri, Lontara+ tidak hanya dibangun sebagai produk teknologi, tetapi juga sebagai bagian dari gerakan sosial untuk meningkatkan literasi dan kesadaran digital masyarakat.
“Kami tahu mengubah kebiasaan tidak mudah. Tapi kalau tidak mulai, kita tidak akan pernah maju. Setahun ke depan kami fokus pada sosialisasi agar semua warga terbiasa menggunakan aplikasi ini,” imbuhnya.
Sementara itu, Roem mengatakan, pengembangan Lontara+ akan tetap mengacu pada roadmap yang telah disusun. Namun, roadmap tersebut bersifat dinamis dan dapat disesuaikan berdasarkan perkembangan teknologi, kebutuhan masyarakat, serta arah kebijakan Pemerintah Kota Makassar.
“Pengembangan aplikasi ini adalah jangka panjang yang terus menyesuaikan dengan perkembangan teknologi, kebutuhan warga, dan visi pengembangan,” pungkasnya.












