Buku ini juga menggambarkan latar alam, kehidupan sosial budaya, serta situasi yang ikut membentuk karakter sang tokoh. Peristiwa politik, sejarah, dan nama-nama lembaga pendidikan, seperti SPG dan IKIP, membawa kenangan kita pada situasi lampau. Disampaikan, bila seseorang rajin membuat catatan, akan mudah baginya memanggil memori masa lalu untuk ditulis menjadi buku.
Yudhistira Sukatanya, sastrawan dan sutradara teater, mengatakan, buku ini memberikan kesempatan kepada pembacanya untuk belajar. Karena ada nilai-nilai budaya dan fakta-fakta yang disampaikan. Saat dia membaca buku ini, menurutnya, dia seperti bercakap-cakap dengan penulisnya.
Acara soft launching buku ini dipandu oleh Rosita Desriani. Hadir beberapa dosen dari FBS UNM, dosen dan mahasiswa Universitas Patompo, dan pengurus SATUPENA Sulawesi Selatan. Acara dimeriahkan pula dengan pembacaan puisi karya Kembong Daeng.
Tampil sebagai pembaca puisi Nufah Maretzha Multazimah (Yezha), juara baca puisi bahasa Makassar, pada Festival Tunas Bahasa Ibu Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2022, dan Fajriani, mahasiswa PPs Universitas Patompo. Tampil pula Muh Dzafran Putra Irman dan Andi Aisyah Ramadhani dari SD Negeri Borong, Makassar. Muh Fahmi Yahya juga membacakan puisi buat ayah-ibunya yang merayakan ulang tahun pernikahan. (*)












