Peserta menilai struktur partai hari ini cenderung tersentralisasi dan bertumpu pada figur. “Banyak partai bergantung pada satu tokoh atau keluarga,” sehingga keputusan penting tidak lahir dari proses kolektif dan demokratis.
Menanggapi diskusi, Erwin menegaskan kembali bahwa, “Pendidikan politik, bagi Bung Hatta, merupakan fondasi utama.” Ia membayangkan partai sebagai laboratorium demokrasi. Jika partai oligarkis, demokrasi negara pun rapuh. Namun, realitas hari ini menunjukkan rekrutmen partai sering instan, berbasis popularitas dan kepentingan elektoral.
Ahmad Hasan menutup dengan menegaskan relevansi Bung Hatta bagi pergerakan masa kini. “Gerakan politik yang sehat tidak lahir dari euforia sesaat, melainkan dari proses panjang pendidikan, pengorbanan, dan konsistensi pada prinsip.”
Diskusi seri ke-15 ini memperlihatkan bahwa kepemimpinan pergerakan dalam pandangan Bung Hatta bukan sekadar figur, melainkan kesatuan peran antara pemimpin, media, dan anggota yang berjalan serempak dalam garis ideologi dan pengorbanan.
Diskusi berakhir tepat pada pukul 16.00 Wita, seperti biasa dihadiri oleh peserta dari beragam kelompok, dari Aparatur Sipil Negara, Aktivis Lingkungan, Akademisi, Mahasiswa dan pelaku usaha UMKM. (RW)












