K-Apel Gelar Maulid Lesehan di Lorong, Rusdin Tompo: Lorong ini Unik

“Yang pertama itu kitabullah atau Alquran yang didalamnya terdiri dari perintah dan larangannya. Perintahnya seperti mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Adapun larangan dari Allah sudah sangat jelas termaktub di kitabullah, yang mana larangan itu sesungguhnya adalah demi kebaikan sendiri,” ungkapnya.

“Kemudian Hadis Nabi Muhammad yang mana keduanya itu saling melengkapi. Seperti kata Rasulullah dalam salah satu hadits yang menyatakan bahwa umatku itu adalah seperti satu bangunan,” kedua wasiat nabi ini saling melengkapi. Pada bangunan, contohnya lantai tidak pernah protes kepada tiang rumah, demikian pula dinding tidak pernah protes kepada atap, mereka semuanya saling melengkapi sebagai satu bangunan,” ulas penulis Buku Maharku Pedang dan Kain Kafan ini.

Maman juga berusaha menjelaskan tentang hikmah dari budaya Maulid di Sulsel yang berupa telur yang ditusuk dengan bambu kemudian ditancapkan ke batang pisang.

Ia mencoba mencari hikmah dibalik simbolisme telur yang mewarnai perayaan Maulid di Sulsel.

“Telur yang dijadikan penganan saat maulid memiliki makna filosofis, telur lambang kelahiran dan dengan bentuknya yang bulat bermakna dunia tempat dilahirkan manusia dan tempat kehidupan mereka, kemudian telur kita bagi tiga yaitu kulit atau cangkang telur disimbolkan Iman. Putih telur disimbolkan Islam, dan kuning telur disimbolkan Ihsan. Demikian halnya putih telur melambangkan kesucian dan keagungan, kuning telur melambangkan keemasan. Jadi telur yang ditusuk saat maulid melambangkan bahwa Iman, Islam, dan Ihsan harus disatukan dan ditegakkan ke atas berdasar kalimat Allah swt. Ini dikarenakan telur yang ditusuk bambu melambangkan adanya kelurusan, kekuatan, keteguhan layaknya pohon bambu yg tumbuh menjulang tinggi. Adapun batang pohon pisang dimaknai sebagai simbol kebermanfaatan. Demikianlah maulid diharapkan memberikan makna kepada umat Islam untuk selalu teguh, lurus dan menjulang tinggi meneladani Nabi saw sebagai manusia mulia dan luhur,” ulasnya.

BACA JUGA:  Rumah Zakat Distribusikan Bantuan Masyarakat Indonesia ke Palestina

Sebelum mengakhiri tausiyahnya Maman juga memberikan pesan atau kiat apabila kita menderita suatu penyakit.

Menurutnya, jika kita tertimpa suatu penyakit maka harus melakukan tiga evaluasi diri.

“Evaluasi pertama yaitu ingat ki Allah dengan banyak berzikir, kedua ingat ki Rasul dengan banyak bersholawat dan ketiga minta maaf kepada orang tua. Insya Allah jika evaluasi ini kita lakukan kita diberikan kesehatan oleh Allah,” pungkasnya.

Peringatan Maulid ini, juga dimeriahkan dengan penampilan ibu-ibu K-Apel dengan membawakan lagu-lagu qasidah.