“Framing System”  

Bima, NusantaraInsight — Puluhan mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah, menggeruduk gedung rektorat, Senin (22/6/2026) sore. Aksi ini sebagai bentuk kemarahan dan kekecewaan atas keikutsertaan salah satu mahasiswa Unsoed dalam kunjungan kerja Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Aksi diawali dengan orasi di depan gedung rektorat sambil membawa spanduk bertuliskan antara lain “Unsoed Problematik” dan “Sodiq Berulah Lagi”. Kasus Unsoed ini hanyalah satu contoh perguruan tinggi yang mengikutkan mahasiswanya dalam kunjungan kerja Wakil Presiden itu.

Itu kasus pertama. Kasus kedua, Presiden ke-7 Joko Widodo berencana melakukan “road show” ke beberapa daerah dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Kasus ketiga, ijazah Jokowi.

Kasus pertama sekarang ramai menghiasi layar media daring dan layar kaca serta halaman-halaman koran cetak. Langkah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memang sejak awal sudah menimbulkan pro-kontra. Publik menilai, kecenderungan mengikutkan sejumlah pimpinan organisasi dalam kunjungan kerja ke beberapa daerah mudah dibaca. Inilah cara pihak tertentu untuk merangkul pimpinan mahasiswa. Di satu sisi, merupakan bentuk terselubung pihak tertentu memecah persatuan mahasiswa.

BACA JUGA:  Tanda-Tanda Batiniah Rasulullah

“Realisasi” dari keterlibatan oknum pimpinan mahasiswa dalam kunjungan kerja itu adalah munculnya kasus Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)) Universitas Bung Karno Jakarta yang ditengarai menerima uang Rp 20 juta sebelum melaksanakan demo. Kini muncul polemik bahwa Wakil Presiden Gibran Rakabuming menyangkal sebagai pihak yang menalangi dana tersebut. Publik mengaitkan putra Joko Widodo ini karena dengan kasus dana Rp 20 lantaran ada relasi keterlibatannya dalam kunjungan kerja Wakil Presiden ke beberapa daerah.

Peristiwa demi peristiwa yang terjadi itu tidak berdiri sendiri. Selalu ada hubungannya. Adanya relasi itu merupakan bentuk nyata dari praktik skenario senyap dan tersembunyi yang dilakukan oleh oknum pihak-pihak tertentu yang telah bertindak sebagai sutradara.

Di tengah isu yang menerpa anaknya, Joko Widodo dikabarkan melakukan ‘road show’ ke beberapa daerah dengan bendara PSI. Lawatan ini dari sisi rasa publik merupakan bentuk “cawe-cawe” Jokowi untuk mendukung keberlanjutan dinastinya. Kita maklum Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono memiliki putri dan putra yang menjadi petinggi partai politik, tetapi tidak pernah melakukan “road show”, meskipun tidak ada larangan untuk melakukannya.

BACA JUGA:  Wukuf di Arafah, Hampir Tabrak Istri  

Dari segi etika, publik belum bisa menerima langkah yang dilakukan pria yang tidak sempat menuntaskan masa jabatannya sebagai Gubernur DKI ini. Langkah Jokowi tersebut semakin memperkuat dugaan publik ‘semangat’ Jokowi membangun dinasti bagi anak-anaknya. Yang paling dekat adalah untuk Gibran menghadapi tahun 2029. Dengan cawe-cawe lebih awal Jokowi berharap sudah menanam modal melalui PSI menghadapi sukses tiga tahun mendatang.