Tuhan Tak Sedang Iseng: Dari Majalah Dinding ke Penyair Facebook

Semua rangkaian peristiwa dalam detak waktu yang sama itu menyentakkan kesadaran penulis bahwa TUHAN tidak sedang iseng menghadirkan potongan-potongan kejadian itu.

Tuhan memang tak bermaksud iseng atau tengah bercanda ketika IA mencipta alam semesta, pun pada setiap peristiwa yang dialami dan dilalui umat-NYA.

Terdapat mutiara pesan dan berlaksa hikmah di balik kelahiran hingga kematian seorang anak manusia. Pesan dan tanda-tanda yang tak selalu terbaca mata meski terbukti memberi kenyamanan hidup.

Kita malah memilih sibuk merayakan waktu dengan cara kita. Cara yang mungkin hampa makna, abai pada muasal hakikat kehadiran kita, atau sebaliknya, penuh wujud rasa syukur.

Menulis dan mencipta puisi bagian dari cara saya merawat keindahan rasa syukur itu. Dengan puisi, saya bukan hanya berkata-kata, bermain kata-kata, tapi lebih dari itu menolak, melawan, merenung, dan melanglang-buanakan pikiran serta impian-impian.

Kini, dengan kemudahan teknologi komunikasi informasi yang sedemikian membantu, membuat puisi-puisi yang baru selesai ditulis langsung bisa dibaca, dinikmati, dan diberi komentar.

BACA JUGA:  SMP-SMA Wahdah Islamiyah Bersama KITA Palestina Kumpulkan Donasi 100 Juta untuk Korban di Gaza

Komentar dan tanda “like” yang diberikan setiap penulis meng-upload puisi terbaru seakan memberi sugesti.

Bagi saya, itu semua merupakan respons positif yang memberi daya dorong bagi munculnya karya-karya baru.

Saya kemudian diam-diam secara narsis mengklaim diri sebagai “penyair Facebook” meski belakangan puisi-puisi saya juga mulai dimuat di Harian Fajar, Makassar.

Lewat Facebook itulah saya ditawari oleh saudara Ahmadin Umar dari Penerbit Rayhan untuk membukukan puisi-puisi yang kebanyakan sudah saya posting di dunia maya tersebut.

Tentu, atas kesediaannya itu, saya mengucapkan terima kasih.

Terima kasih kepada ibu saya, Kenna Daeng Bollo (almarhum), yang menanamkan pentingnya pendidikan bagi kami, anak-anaknya. Terima kasih kepada ayah saya, Tata Tompo (almarhum), yang saya anggap memiliki rasa bahasa yang baik.

Terima kasih juga kepada kakak sulung saya, Rusly Tompo, yang membukakan jalan untuk saya membaca puisi dari satu acara ke acara lain, dari satu panggung ke panggung lain ketika kami masih tinggal di Ambon.

Ucapan terima kasih selayaknya juga disampaikan kepada almarhum Ahyar Anwar yang sempat mendiskusikan “masa depan” puisi-puisi saya di Facebook. Hanya sejumput doa yang bisa saya selipkan baginya.

BACA JUGA:  Dr. H. Basyarudin Thayip : Pengurus Besar Mendukung PGRI Sulsel Mendirikan Perguruan Tinggi

Terima kasih kepada sahabat saya Zairin “Embonk” Salampessy, yang menjadi teman diskusi sekaligus teman berkesenian saya selama di Ambon. Melalui sentuhan tangannya, cover buku ini terasa artistiknya.

Terima kasih kepada kakanda Yudhistira Sukatanya yang mengkritisi naskah buku ini begitu ia membacanya.

Terima kasih dan rasa bangga saya kepada para senior Dr Syahriar Tato, Asdar Muis RMS, dan Luna Vidya yang sudah bersedia membaca karya ini dan memberi komentar yang apresiatif.

Terima kasih untuk Yayasan BaKTI, teman-teman di LISAN dan LPA Sulsel, serta teman-teman di Ikatan Penulis Indonesia Makassar (IPIM). Juga untuk semua orang yang telah jadi teman diskusi, yang sudah memberi inspirasi, yang bisa menemukan sebuah nilai hakiki di balik teks puisi-puisi ini. (*)

Makassar, Juni 2014

*) Pengantar penulis untuk buku “TUHAN Tak Sedang Iseng”, karya Rusdin Tompo, penerbit Rayhan Intermedia, Makassar, 2014, dengan sedikit revisi