Menulis Sebagai Panggilan

Tahap selanjutnya, menulis sebagai profesi. Ini pilihan dan jalan hidup, yang tak cuma menghasilkan tapi juga berpenghasilan dari pekerjaan menulis. Tahap ini, dia memasuki wilayah. Dia bisa saja menyasar ceruk segmen tertentu, melakukan diferensiasi, atau seorang penulis generalis dengan insting pasar yang bagus. Pada kasus tertentu, penyebutan penulis profesional diartikan ada label harga di situ. Walaupun karena jasanya bersifat personal maka tidak ada patokan angka pasti.

Nah, tahap berikut inilah yang saya kelompokan menulis sebagai “calling”, dengan meminjam istilah Prof Rhenald Kasali itu. Tahap ini, tak ada lagi sekat menulis sebagai hobi, passion, atau profesi. Dia menulis bukan hanya untuk eksistensi dirinya tapi melihat kebermanfaatannya. Dia bisa saja mengungkap sesuatu yang belum tersingkap, memperkenalkan sesuatu yang memang layak untuk diperkenalkan lewat tulisan. Begitu hasil tulisannya dimuat, mereka yang namanya ada dan disebut dalam tulisannya bahagia. Mungkin pula bakal berdampak positif.

Pada tahap apa pun kita menulis, sejatinya perlu ada riset ada refrensi. Karena di situlah basis argumentasi kita. Meski nanti diolah dalam gaya bahasa sendiri. Setiap tulisan sebaiknya mengandung pencerahan yang diberikan lewat sajian yang gurih bergizi, kaya data, juga punya sudut pandang yang segar. Namun, tentu semua butuh proses, tak bisa instan. Menulis bukan serupa bikin teh seduh atau menuangkan kopi saset. Yang pasti, kita butuh tulisan yang hangat dan nikmat dibaca. (*)

BACA JUGA:  4 Pulau Sah Milik Aceh

Gowa, 3 Maret 2024