NusantaraInsight, Jakarta — Prof.Dr.Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc. Kembali memimpin Universitas Hasanuddin periode 2026-2030, setelah meraih suara 23 dalam acara pemilihan Rektor Unhas di Lantai IV Gedung Pendidikan dan Latihan Kampus Universitas Hasanuddin Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Calon lain, Prof.dr.Budu, M.Med., Ph.D. meraih 1 suara dan Prof.Dr.Sukardi Weda tidak memperoleh suara.
Rapat Senat Luar Biasa Unhas itu dipimpin Ketua Majelis Wali Amanah (MWA) Prof.Dr. Alimuddin Unde, M.Si didampingi Sekretaris Prof.Dr.Ir. Asmuddin Natsir, M.Sc, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi Prof.Dr. Fauzan, M.Pd.atas nama Menteri hadir hingga acara usai.
Para anggota MWA juga hadir, termasuk Ketua Panitia Pemilihan Rektor Unhas Prof.Drg. Hasanuddin Tahir, MS, Sekretaris Panitia Prof.Dr.Ir. Situ Bulqis,M.P. mantan Rektor Unhas Prof.Dr.Dwia Aries Tina Pulubuhu, M.A.
Pada acara Rapat Senat Luar Biasa Unhas di Jakarta tersebut diawali dengan pemaparan visi misi para calon rektor Unhas yang dipimpin Ketua Dewan Profesor Unhas Prof.Dr. Andi Pangeran Moenta, S.H. DFM, kemudian ditanggapi oleh Wamen Dikti Saintek, Prof.Dr.Fauzan, M.Pd. CEO PT Freeport Tony Wenas, dan Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Sulsel Andi Winarno Eka putra.
Pada acara penghitungan suara, Prof. Jamaluddin melaju tanpa tersela oleh calon lain hingga suara ke-23. Pada suara ke–24, baru diraih oleh Prof.Budu. Suara yang diraih Prof. Jamaluddin Jompa, termasuk 35% suara Menteri Dikti Saintek.
Wamen Prof.Dr.Fauzan, M.Pd. dalam sambutannya usai penandatanganan dan penyerahan berita acara dari Ketua Panitia Pemilihan Rektor Unhas Prof.Drg. Hasanuddin Tahir, M.S. kepada Ketua MWA, Prof.Dr.Andi Alimuddin Unde, M.Si. menyampaikan selamat kepada para calon rektor yang pada akhirnya yang terpilih hanya satu, karena tidak ada matahari lebih dari satu.
Oleh sebab itu, atas nama Kementerian menyampaikan terima kasih atas partisipasi aktif dalam membangun Unhas.
“Sekali lagi saya ucapkan selamat kepada rektor yang baru, “cashing” yang lama, “ canda Prof.Fauzan.
Wamen kemudian melanjutkan dengan tiga poin sambutannya. Pertama sambutannya dengan membacakan pantun.
“Pesawat dari Bali menuju Pekanbaru. Ke Surabaya tidak lupa naik Garuda. Selamat atas terpilihnya rektor baru. Semoga konsisten dengan paparanna,” Prof. Fauzan berpantun, kemudian menambahkan, saya tidak menasihati tetapi di pantun saja.
Dia mengatakan, poin kedua, Unhas adalah salah satu perguruan tinggi yang menurut Wamen memiliki kluster tertinggi PTN BH, yaitu dalam tata kelola. Ini tentu saja harus dimaknai, Unhas tidak boleh berada di dalam wilayah yang biasa-biasa saja karena Indonesia ini sudah “over stock” (kelebihan cadangan) “maindset” yang biasa-biasa saja.
Oleh karena itu Unhas harus dapat melahirkan generasi yang luar biasa dalam bertanggung jawab sebagai PTN BH. Untuk dapat mengantarkan perguruan tinggi menjadi luar biasa, tentu tidak cukup dengan “style leadership” yang hanya menggunakan gaya “administrative leadership, academic leadership”, tetapi harus dihadirkan “interpreneurship leadership”. Selama ini perguruan tinggi yang biasa-biasa saja, itu biasanya memang ‘administrasi sentris’, sehingga yang dikejar itu adalah hal-hal yang bersifat administratif. Bukan berarti itu tidak penting. Namun ada yang penting lagi.
Ini penting disampaikan karena kita ingin perguruan tinggi di Indonesia ini memperoleh simpati supaya “trust” (kepercayaan) industri dan masyarakat terhadap perguruan tinggi ini akan terbangun.
“Selagi kita tidak dapat menunjukkan keunggulan dalam tata kelola, selama itu pulalah kita berada dan tidak pernah memperoleh simpati dan “truxt” dari industri dan masyarakat, yang sebenarnya itulah akreditasi secara hakiki, yakni akreditasinya masyarakat,” kunci Prof. Fauzan.












