Beban Kota Terlalu Berat

Kota
Kendaraan merambat di Jalan Leimena Makassar

Kemacetan ini juga dipicu oleh ketidaktersedianya ruas jalan untuk mengurai kemacetan pada ruas-ruas jalan tertentu. Semisal jalan tol atau jalan layang. Makassar memang berbangga dengan pembangunan jalan layang Andi Petta Rani sepanjang 4,3 km tanpa pembayaran ganti rugi dan pembebasan tanah karena dibangun di atas ruas jalan lama.

Yang menjadi persoalan, ternyata kehadiran jalan layang ini, yang sebelum diresmikan penggunaannya digembar-gemborkan akan dapat mengurai kemacetan lalu lintas di JL.Andi Pangerang Petta Rani itu, justru tidak berpengaruh sama sekali. Jalan A.Petta Rani tetap saja macet dan padat. Kendaraan hanya sedikit terlindung oleh naungan beton jalan layang. Masalahnya, jalan layang ini hanya melayani mereka yang akan ke dan dari Pelabuhan Makassar dan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin di Maros. Tidak ada akses bagi pengemudi untuk naik ke jalan layang ini dari Jl. Urip Sumoharjo jika hanya ingin ke bagian selatan kota, Kampus Universitas Negeri Makassar (UNM).

Sejatinya, perencanaan jalan layang ini bisa diakses oleh pengendara mobil yang bergerak dari arah timur dan barat, Jl. Urip Sumoharjo, yakni dengan membuat jembatan penyambung ke jalan layang dari dua arah kiri dan kanan. Jika ini terjadi, barulah jalan layang ini bisa mengurai kemacetan arus lalu lintas di Jl.A.Petta Rani. Ya, begitulah kehadiran jalan layang ini hanya sekadar gagahan-gagahan saja. Tidak terlalu signifikan kemanfaatannya bagi mengurai kemacetan jalan di kolongnya.

BACA JUGA:  Prakiraan BMKG Hari ini: Makassar Berpotensi Hujan Hingga Pukul 18.00 Wita

Kegagalan perencanaan masa depan juga tampak di Simpang Lima Bandara Sultan Hasanuddin. Ruas jalan di bawah (underpass) hanya diperuntukkan bagi kendaraan yang bergerak dari dan ke Makassa-Maros. Itu pun untuk bus penumpang. Sementara angkutan kota, tetap saja dia tidak melalui “underpass” karena tidak halte penumpang untuk menunggu angkutan kota. Mereka yang akan ke dan dari Bandara Sultan Hasanuddin tetap saja terlibat perlambatan dan kemacetan di simpang ini.

Mestinya, diciptakan jalur khusus bagi kendaraan yang terus menuju atau dari Bandara Sultan Hasanuddin dari dan ke Kota Makassar. Juga termasuk yang akses ke jalan tol. Dengan kondisi seperti itu, kehadiran Simpang Lima ini tidak maksimal kebergunaan dan kemanfaatannya bagi mengurai kepadatan lalu lintas.

Ya, begitulah perencanaan infrastruktur yang selalu gagal memprediksi kian bertambah dan meningkatnya jumlah kendaraan bermotor di kota ini. (M.Dahlan Abubakar).