Orasi Ilmiah di Universitas Patompo, Asst Prof Arwin Datumaya Bahas Transformasi Pendidikan dan Kompetensi di Era Kecerdasan Artifisial 

Makassar, NusantaraInsight — Perguruan tinggi dituntut mentransformasi pembelajaran agar mampu mencetak lulusan yang menguasai kecerdasan artifisial (AI) sekaligus berpikir kritis, inovatif, dan bertanggung jawab atas penggunaannya. Gagasan itu disampaikan Marsekal Pertama TNI Asst Prof Dr Ir Arwin Datumaya Wahyudi Sumari dalam orasi ilmiah Wisuda Sarjana dan Pascasarjana XXXI Universitas Patompo, Sabtu (31/10/2026), di Hotel Claro Makassar.

Orasi bertajuk “Transformasi Pendidikan dan Kompetensi di Era Kecerdasan Artifisial: Menyiapkan Talenta AI untuk Masa Depan Indonesia” itu dibacakan di hadapan 271 wisudawan program sarjana dan magister.

Kompetensi di Era AI

Prof Arwin menilai AI kini tidak lagi sekadar teknologi percakapan digital. Teknologi tersebut mampu menghasilkan teks, merangkum dokumen, menganalisis data, mengenali pola, membuat prediksi, hingga mendukung pengambilan keputusan.

Karena itu, lulusan perguruan tinggi perlu memahami cara kerja dan keterbatasan AI, menggunakan atau membangun sistem secara tepat, mengevaluasi hasilnya, serta mempertanggungjawabkan keputusan yang diambil.

“Jika AI dapat menghasilkan jawaban, kompetensi apa yang harus terus dikembangkan oleh manusia?” tanyanya dalam naskah orasi.

BACA JUGA:  Perkuat Ciri Khusus Ponpes Darul Fallah Unismuh Makassar Bissoloro Gowa Adakan Semiloka

Pembelajaran Berbasis Proses

Menurut Prof Arwin, kemajuan AI menuntut perguruan tinggi meninggalkan pembelajaran yang hanya mengandalkan hafalan. Pencarian informasi, penyusunan ringkasan, dan pembuatan draf kini mudah dibantu AI, sehingga penilaian perlu mengarah pada pemahaman, penalaran, kreativitas, dan pemecahan masalah.

Dosen, katanya, tetap berperan strategis sebagai pembimbing proses berpikir mahasiswa. Ia mengusulkan penilaian berbasis pekerjaan nyata, seperti perumusan masalah, pengujian data, penjelasan metode, dan evaluasi hasil serta pemanfaatan portofolio untuk mendokumentasikan proses belajar.

Pendekatan tersebut sejalan dengan kerangka kompetensi AI UNESCO 2024 yang menekankan pola pikir berpusat pada manusia, etika AI, teknik dan aplikasi AI, serta perancangan sistem AI. UNESCO menempatkan perkembangan kompetensi dalam tiga tahap: memahami, menerapkan, dan mencipta.

Usulan Prodi AI

Prof Arwin juga mengusulkan pengembangan Program Studi AI di Universitas Patompo melalui kurikulum empat lapisan: fondasi matematika, statistika, algoritma, pemrograman, dan komputasi; metode AI seperti machine learning, deep learning, pemrosesan bahasa, dan visi komputer; rekayasa sistem serta keamanan; dan penerapan melalui proyek lintas bidang, magang, tugas akhir, serta etika.

BACA JUGA:  Dekan FISIP Unismuh: Mahasiswa Hari Ini Bersaing dengan Robot dan Kecerdasan Buatan

Ia menegaskan rancangan itu masih bersifat konseptual dan perlu dikaji sesuai visi kampus, kebutuhan dunia kerja, regulasi, serta kesiapan sumber daya dan fasilitas. Ia juga merujuk verifikasi BNSP terhadap 38 skema sertifikasi LSP Informatika pada Agustus 2026, termasuk empat skema terkait AI, sebagai tanda meningkatnya kebutuhan kompetensi AI di dunia kerja.

AI untuk Masyarakat

Dalam orasinya, Prof Arwin menekankan pengembangan AI harus menjawab kebutuhan nyata masyarakat, termasuk di bidang kelautan, kedirgantaraan, energi, dan pelayanan publik. Namun, penggunaan AI tidak perlu dipaksakan bila teknologi sederhana lebih sesuai.

Ia mengingatkan pengembangan sistem AI wajib memperhatikan privasi, keadilan, keamanan, dan akuntabilitas. Perguruan tinggi juga perlu membangun ekosistem berupa dosen kompeten, laboratorium, fasilitas komputasi, serta kemitraan dengan pemerintah, industri, lembaga sertifikasi, dan komunitas penelitian.

Prof Arwin menyatakan terbuka membangun kolaborasi untuk menjadikan Universitas Patompo salah satu center of excellence AI di Indonesia. Kepada wisudawan, ia berpesan menjadi pengguna AI yang kritis, pembelajar yang tekun, dan pencipta solusi yang bertanggung jawab.