Gowa, NusantaraInsight — Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Festival Sastra Kepulauan IX 2026 yang berlangsung pada 18-20 September 2026 di Benteng Somba Opu, Sulawesi Selatan, acara ini menghadirkan “Dialog Sastra”. Mengangkat tema “Merawat Tradisi Puitis, Menautkan Keberagaman Kampung,”
Sesi dialog yang digelar Sabtu (19/9/2026) ini menjanjikan diskusi mendalam tentang peran sastra dalam melestarikan budaya lokal dan memperkuat persatuan di tengah masyarakat.
Pada kesempatan pertama Drs. Andi Mahrus Syarif menyampaikan Merawat Sukma Leluhur Lewat Tradisi Puitik Sulawesi Selatan Penjaga Nilai Luhur Bangsa
Menurutnya, di tengah arus modernisasi yang kian kencang, upaya pelestarian nilai-nilai budaya menjadi sangat penting. Salah satu sorotan menarik datang dari tradisi puitik masyarakat kepulauan di Sulawesi Selatan, yang tak sekadar menjadi karya sastra, namun juga sarana mendalam untuk “Merawat Sukma Leluhur”.
Berdasarkan paparan dari pemateri Mahrus Andis, tradisi puitik ini memiliki makna mendalam. Dalam infografis terbarunya, ia mendefinisikan tradisi puitik sebagai “bentuk kebiasaan mengungkapkan pengalaman, pengetahuan, dan nilai-nilai kehidupan individu melalui bahasa yang indah, baik, dan tepat”. Ini sejalan dengan pandangan para ahli, yang melihatnya sebagai konvensi sastra hidup di tengah-tengah kebudayaan.
Mahrus Andis membagi tradisi puitik ini menjadi dua kategori:
Tradisi Puitik Melayu Klasik: Sastra lisan dengan konvensi pakem.
Tradisi Puitik Modern: Sastra tulis yang mengalami deformasi bentuk dan isi.
Manfaat dan Pengaruh Nyata
Kekuatan tradisi puitik ini tak hanya terletak pada keindahan bahasanya, melainkan pada dampak langsungnya dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Salah satu manfaat utamanya adalah sebagai motivasi menuntut ilmu dan pengalaman hidup.
Pesan luhur disampaikan melalui berbagai bentuk puisi, seperti:
Elong (Tariqat/Al-Hikmah): “Iye teppaja kusappa/ paccolli loloengngi/aju marakkoe” (Saya tidak lelah mencarinya/ agar pucuk daun muda itu bertunas/ kayu yang sudah kering itu). Kutipan ini menggambarkan ketekunan dalam mencari hikmah kehidupan.
Werekada (Kematangan Hidup): “Kalloloni la baso/tappiqni gajang/ limbanni salo” (Pemuda itu sudah gagah/ kerisnya sudah ditajami/ sungai sudah diseberangi). Ini melambangkan kedewasaan dan kesiapan menghadapi tantangan hidup.
Membangun Etos Kerja Keluarga
Tak hanya untuk individu, tradisi puitik ini juga menjadi pilar dalam membangun etos kerja keluarga. Pesan-pesan moral seperti Pappaseng (Pesan Leluhur) dan Paruntuq Kana (Kata-kata Bijak) menjadi panduan bagi generasi muda.
Salah satu kutipan yang menginspirasi adalah:
“Ajaq muwabbawine nerekko temmulle/ meggulingi” (Janganlah engkau bepergian jika tidak siap menghadapi kesulitan).
Serta filosofi hidup yang kokoh seperti dalam pepatah:
“Kuallieangi tallanga na toalia” (Lebih baik tenggelam daripada harus kembali).
Hal ini tercermin dalam visualisasi di akhir infografis yang menampilkan seorang pria paruh baya mengajari seorang anak muda cara membuat jala ikan di atas perahu saat matahari terbenam. Sebuah gambaran nyata tentang transfer pengetahuan dan semangat kerja keras dari generasi ke generasi.
Pelestarian tradisi puitik ini menjadi pengingat berharga bagi kita semua, bahwa akar budaya yang kuat adalah pondasi yang tak tergantikan bagi kemajuan bangsa. “Merawat Sukma Leluhur” bukan sekadar mengingat masa lalu, tapi juga bekal berharga untuk menghadapi masa depan, tutup Mahrus Andis












