PGRI Power Resmi Diluncurkan

Makassar, NusantaraInsight — Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi Sulawesi Selatan resmi meluncurkan PGRI Power: Gerakan Nasional Satu Juta Guru Mahir Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI) di Makassar, Jumat (18/9/2026).

Launching berlangsung di Aula Anging Mammiri, Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Provinsi Sulawesi Selatan, Jl Adiyaksa No 2, Makassar.

Peluncuran PGRI Power ditandai dengan menyentuh layar secara bersama-sama oleh Ketua PGRI Sulsel Prof. Dr. H. Hasnawi Haris, M.Hum., Sekretaris Umum PGRI Sulsel Dr. Abdi, M.Pd., Ketua YPLP PGRI Sulsel Hj. Juhrah, S.Sos., M.AP., Ketua PGRI Kabupaten Sidrap sekaligus Wakil Bupati Sidrap Nurkanaah, S.H., M.Si., serta Ketua Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) PGRI Sulsel H. Mursalim Rauf, S.H., M.H.

Peluncuran tersebut sekaligus menandai dimulainya Training of Trainer (ToT) Gerakan Nasional Satu Juta Guru Mahir Koding dan Kecerdasan Artifisial (AI) tingkat Sulawesi Selatan.

ToT berlangsung selama tiga hari, Jumat hingga Ahad (18-20/9/2026).

PGRI Power menjadi salah satu program strategis PGRI untuk memperkuat kompetensi digital guru sekaligus mempersiapkan tenaga pelatih yang akan menyebarluaskan keterampilan koding dan pemanfaatan AI kepada guru di daerah.

BACA JUGA:  Ketua PGRI Soppeng Puji Konsolidasi PGRI Sulsel-BBGTK: "Kunci Guncang Pendidikan Digital!"

Ketua PGRI Sulsel, Prof. Dr. H. Hasnawi Haris, M.Hum., mengatakan perkembangan teknologi yang semakin cepat menuntut guru terus meningkatkan kompetensi.

Menurutnya, guru tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga harus memahami perkembangan digital agar mampu mendampingi peserta didik memanfaatkannya secara tepat.

“Guru harus mengambil peran. Jangan sampai perkembangan teknologi justru membuat anak-anak kehilangan kendali dalam memanfaatkannya,” kata Hasnawi.

Ia menegaskan kehadiran kecerdasan artifisial bukan berarti menghilangkan posisi guru dalam proses pendidikan.

Sebaliknya, perkembangan AI membuat peran guru semakin penting dalam membimbing peserta didik menggunakan teknologi secara bijak dan produktif.

“Guru harus menjadi kendali dari kemajuan teknologi. Guru tidak akan tergantikan dengan kemajuan teknologi,” tegasnya.

Hasnawi berharap PGRI Power tidak berhenti pada kegiatan launching dan pelatihan di tingkat provinsi.

Program tersebut harus dilanjutkan melalui diseminasi dan pelatihan di seluruh kabupaten dan kota sehingga semakin banyak guru memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi AI dalam pembelajaran.

“Saya berharap peserta ToT PGRI Power ini nantinya dapat mentransformasikan ilmunya untuk mewujudkan satu juta guru mahir koding dan kecerdasan artifisial di daerah masing-masing,” ujarnya.