ITB Kembangkan Model Pemulihan Pascabencana berbasis Psychological First Aid, Kesehatan, dan Teknologi Digital di Bireuen, Aceh

Aceh, NusantaraInsight — Bencana yang menimpa Bireuen, Aceh, meninggalkan kerusakan pada bangunan, infrastruktur, kesehatan, dan kondisi psikologis para korban. Setelah bencana berakhir dan masyarakat dapat kembali ke rumah masing-masing dari pengungsian, penyintas harus memasuki fase pemulihan. Pada fase pemulihan ini, penyintas membutuhkan pendampingan untuk kembali bangkit dan memiliki rasa aman. Penyintas kesulitan beradaptasi dengan situasi baru, terlebih lagi setelah mengalami trauma. Untuk memenuhi kebutuhan ini, tim Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Bandung (ITB) memberikan pelatihan kepada Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) untuk mengembangkan pemulihan pascabencana. Pemulihan dilakukan dengan mengintegrasikan pendekatan psikososial, kesehatan, dan teknologi digital.

Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan pada 3—4 Agustus 2026 dan diketuai RR Sri Wachyuni, M.Psi. dari Kelompok Keahlian Literasi Budaya Visual, FSRD ITB. Pelatihan berfokus pada pendampingan kepada pengurus Organisasi Pemerintah Daerah (OPD) di Bireuen, Aceh. Tim pengabdian masyarakat yang terdiri atas Dr. Tri Sulistyaningtyas, M. Hum., Dr. Dana Waskita, S.S., M.App.Ling., Prof. Dr. apt. Ilma Nugrahani, MSi., dan Andi Muhammad Yuandana Putra C. , S.T., M.B.A. Melalui kegiatan ini, tim ITB memperkenalkan metode penanganan pascabenana kepada OPD untuk meningkatkan layanan pemulihan yang lebih komprehensif bagi penyintas terdampak bencana.

br

Pelatihan ini didasari oleh pemetaan awal yang sudah dilakukan kepada 20 peserta. Hasil pemetaan menunjukkan langkah mitigasi dan respons yang sudah dilakukan dalam situasi darurat, seperti perencanaan berbasis risiko, edukasi masyarakat, koordinasi lintas sektor, serta pelayanan pada korban. Peserta juga mengidentifikasi adanya tantangan yang dihadapi selama pemulihan, seperti sumber daya manusia yang terbatas, kesulitan koordinasi antarlembaga, lokasi terdampak yang sulit dijangkau, serta kesiapan mental yang belum memadai. Temuan ini menjadi landasan penyusunan materi pelatihan pada program kegiatan ini.
Dalam pemberian materi yang dipandu oleh RR Sri Wachyuni, M. Psi., peserta diperkenalkan dengan konsep psychological first aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis. Peserta belajar untuk memberikan dukungan awal kepada penyintas dengan memberikan rasa aman, mendengarkan kebutuhan penyintas, mengurangi tekanan psikologis, dan membantu penyintas kembali melakukan rutinitas kesehariannya setelah menghadapi bencana. PFA menciptakan kondisi safety, calming, connectedness to others, self-efficacy-empowerment, dan hopefulness. Pada sesi ini, peserta berkenalan dengan reaksi fisik dan psikologis pascabencana dan tahapan untuk menanganinya.

brbr
BACA JUGA:  Mahasiswa KKNT Unhas di Sidenreng Luncurkan Program Lahan Berkebun Keluarga
brbr
br