Penanganan dan refleksi psikologis dalam fase pemulihan membutuhkan pengarahan dengan bahasa yang tepat. Materi ini dibawakan oleh Dr. Dana Waskita, S.S., M.App.Ling., dan Dr. Tri Sulistyaningtyas, M. Hum. Pada materi ini, OPD diajarkan untuk memilih dan menggunakan kata yang sederhana dalam memberikan pengarahan pemulihan pascabencana. OPD juga diperkenalkan dengan materi penanganan pascabencana dari sudut pandang budaya. Pemilihan kata menjadi aspek yang penting agar penanganan dan pemulihan pascabencana dapat dipahami dan diterima oleh penyintas. Penggunaan bahasa yang terlalu tinggi, terlalu teoretis, dan terlalu rumit akan menyulitkan penyintas untuk memahami langkah-langkah yang harus dilakukan selama fase pemulihan.
Program ini juga mengarahkan peserta untuk memahami pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam mendukung layanan kesehatan pascabencana. Sesi ini diberikan oleh Prof. Dr. apt. Ilma Nugrahani, M. Si.,. Beliau menjelaskan perkembangan kecerdasan buatan (AI) sebagai peluang untuk penanganan pascabencana. Kecerdasan buatan (AI) dapat dimanfaatkan sebagai media edukasi kesehatan dan pendukung swamedikasi yang bertanggung jawab. Penggunaan teknologi ini harus disertai kemampuan memilah informasi yang valid sehingga masyarakat tidak mengakses informasi yang keliru. Pemanfaatan teknologi digital juga diberikan oleh Andi Muhammad Yuandana Putra C., S.T., M.B.A. Pada sesi ini, peserta mempelajari sistem komunikasi digital yang dapat membantu penyampaian informasi kebencanaan dalam bentuk visual yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat.
Melalui workshop, peserta menyusun rancangan model pemulihan yang dapat diterapkan oleh OPD sesuai dengan kebutuhan penyintas. Model ini mengelaborasikan dukungan psikososial, layanan kesehatan, dan pemanfaatan teknologi digital sebagai bagian dari strategi pemulihan yang berkelanjutan. Program ini dilakukan dengan harapan OPD mampu merespons kondisi darurat dan mendampingi masyarakat hingga mampu menjalani kehidupan secara mandiri.
Pemulihan pascabencana mengutamakan rasa aman, kesehatan, dan kemampuan masyarakat mengalami krisis. Melalui kolaborasi antara sudut pandang psikologi, kesehatan, dan teknologi digital, program ini mengarahkan peserta untuk mengembangkan model yang dapat diaplikasikan di Bireuen, Aceh. Pengembangan model ini ditekankan untuk menjadi rujukan dalam membangun sistem pemulihan pascabencana agar penyintas dapat adaptif dan kembali menjalani rutinitas seperti sebelum terjadi bencana.


br
br
br






br
br






br