Maros, NusantaraInsight — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Infrastruktur (KKN-TI) Gelombang 115 Universitas Hasanuddin menggelar kegiatan “Sosialisasi dan Diskusi Perencanaan serta Perawatan Bangunan Kayu dan Beton di Wilayah Pesisir” di Desa Borimasunggu, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Kegiatan berlangsung sebagai bagian dari pengabdian kepada masyarakat untuk menangani kerusakan bangunan yang marak terjadi di desa pesisir tersebut.
Kegiatan dimulai dengan observasi langsung terhadap sejumlah bangunan rumah warga yang mengalami kerusakan cukup parah. Berdasarkan hasil observasi dan diskusi dengan warga, ditemukan banyak permasalahan konstruksi yang bersumber dari kurangnya pemahaman mengenai standar perencanaan dan perawatan bangunan khusus wilayah pesisir. Kerusakan yang ditemukan umumnya dipengaruhi oleh perencanaan yang belum memperhitungkan kondisi lingkungan pesisir serta perawatan yang tidak sesuai.
Penanggung jawab kegiatan, Eiffel Anugerah Junior Ruru’ Acang, mahasiswa Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin dan peserta KKN-TI Gelombang 115, menjelaskan bahwa program ini bertujuan memberi edukasi kepada masyarakat tentang standar perencanaan konstruksi dan metode perawatan yang membutuhkan perlakuan khusus pada kawasan pesisir. Menurut Eiffel, banyak warga Desa Borimasunggu bekerja sebagai tenaga konstruksi, sehingga pemahaman teknik yang tepat penting diterapkan saat pembangunan.
“Kami berharap ke depannya Desa Borimasunggu mampu mengatasi berbagai permasalahan bangunan yang ada sehingga dapat berkembang menjadi desa yang lebih maju,” kata Eiffel saat menyampaikan materi sosialisasi dan diteruskan dalam rilis ke media, Minggu (17/5/2026).
Hasil kegiatan menunjukkan tenaga konstruksi lokal sudah memahami proses pelaksanaan pembangunan secara umum, namun masih memerlukan tambahan pengetahuan mengenai perlakuan material dan teknik yang cocok untuk kondisi pesisir, seperti perlindungan terhadap korosi pada struktur beton, penggunaan pengawet dan perawatan pada bangunan kayu, serta perencanaan pondasi yang mempertimbangkan pasang surut dan erosi. Sementara itu, masyarakat umum membutuhkan pemahaman lebih mendalam terkait prinsip perencanaan rumah tahan lingkungan pesisir dan rutinitas perawatan preventif.
Respons warga terhadap program tersebut cenderung positif. Para peserta mengapresiasi materi praktis yang diberikan karena dianggap mampu membantu mereka menemukan solusi atas masalah bangunan yang sering muncul, sekaligus memberi pedoman untuk pembangunan ke depan. Beberapa warga berharap sosialisasi lanjutan berupa pelatihan teknis dan panduan tertulis yang mudah dijadikan acuan.













