Gaukang ri Lakkang, Cara Membangun Kesadaran Kritis Warga dengan Menulis

_Oleh: Rusdin Tompo (Pegiat Literasi, dan Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)_

NusantaraInsight, Makassar — Lakkang bukan sekadar delta atau pulau yang dikelilingi aliran Sungai Tallo dan Sungai Pampang.

Kelurahan dengan luas daratan sekira 1,65-3 kilometer persegi yang secara administratif masuk Kecamatan Tallo ini, tentu punya banyak cerita, kisah, dan sejarah.

Bahkan setiap warganya pasti memiliki ingatan dan pengalaman terkait kampungnya tersebut.

Sayangnya, tulisan-tulisan tentang dan seputar Lakkang, lebih sering kita baca dari kalangan peneliti, akademisi, jurnalis, atau penulis, yang kesemuanya orang dari luar, bukan warga Kampung Lakkang sendiri.

*Menegaskan Identitas*

Sejatinya, sejarah terserak di sekitar kita, ada dalam kehidupan sehari-hari. Tubuh dan diri kita pun terhubung dengan sejarah itu.

Namun, mengapa selalu para ahli yang kita rujuk, buku-buku asing yang kita lahap, pandangan pakar yang kita dengar?

“Cerita orang tua, perubahan kampung dari waktu ke waktu, mata pencaharian dan kearifan lokal, bahkan peristiwa yang dialami dan dirasakan adalah sejarah itu sendiri,” terang Ferdhiyadi, di hadapan peserta Gaukang ri Lakkang, Sabtu, 4 April 2026.

BACA JUGA:  Lima Presiden di Dunia yang digulingkan Rakyatnya

Peneliti dan pengajar sejarah, yang juga merupakan pegiat literasi itu, lantas memberikan pendidikan kritis, dengan menyorot relasi kuasa dalam pengetahuan.

Lelaki kelahiran Soppeng, 6 September 1991, yang pernah bergabung dengan Jurnal Celebes itu, lalu menggambarkan polanya secara sederhana.

“Peneliti datang, ajukan pertanyaan, ambil cerita, kemudian klaim temuan. Siklus ini terus berputar tanpa warga mendapat manfaat yang adil dan setara,” paparnya, yang terdengar seperti menggugat.

Dijelaskan, pengalaman, ingatan, pengetahuan, dan cerita warga lalu diolah jadi data, selanjutnya diekstrak jadi temuan.

Perempuan, warga biasa, seperti petani, nelayan, dan pedagang kecil, serta kelompok rentan lainnya, termasuk komunitas adat, pada gilirannya terpinggirkan.

Pendekatan dalam melihat sejarah pun terlalu formal, katanya. Seolah “no document, no history”.

Padahal, kata dosen UNM itu, pengetahuan hidup dan berkembang dalam masyarakat, bisa berupa percakapan, ritual, lagu, cara merawat tanah, dan lain sebagainya– kesemuanya merupakan sumber sejarah yang valid.

Karena itu, tegasnya, warga Lakkang perlu menulis sejarah kampungnya sendiri, sebagai ruang untuk bersuara di mana warga adalah aktornya, bukan cuma objek yang ditulis.

BACA JUGA:  Kaltara FC Kalah di Tawau dan Menang di Nunukan, Zainal Paliwang : Kita Utamakan Silaturahim

Menulis sejarah kampung sendiri merupakan wujud menjaga kekayaan budaya, memperkuat identitas, dan meneruskan pengetahuan kepada generasi mendatang.