Berbincang dalam Temaram Anjungan KM Tilongkabila

Catatan M.Dahlan Abubakar

NusantaraInsight, Makassar — Ini benar-benar peristiwa yang unik. Berbincang-bincang di tengah temaramnya ruang pada sebuah kapal penumpang.

Ketika hendak mengambil gambar Srikandi KM Tilongkabila Nur Azizah Muhidin di anjungan, ruang kemudi kapal, seluruh lampu dalam keadaan padam. Yang tampak ‘menyala’ hanyalah perlengkapan navigasi kapal yang memancarkan tulisan dan grafik digital. Lampu memang harus dalam keadaan “off” untuk memudahkan kru kapal dapat membaca dengan jelas dan tepat indikator yang ada di perlengkapan navigasi.

“Nanti kita foto setelah kapal sandar, Pak Aji,” terdengar suara Nur Azizah tidak berapa lama setelah kami tiba di anjungan.

“Ok, siap. Biar saya lihat-lihat situasi dari anjungan ini dulu,” jawab saya. Azizah kemudian meninggalkan saya di anjungan bersamaan dengan ada sosok yang mendekat.

“Oh..Pak Aji,” terdengar suara, yang rasanya begitu akrab di telinga saya, tetapi wajahnya sama sekali tidak bisa dikenali sesuai dengan foto yang selalu muncul di media sosial “facebook”-nya.

“Mau minum kopi atau teh, Pak Aji,” pria itu yang tidak lain adalah Ifonk, panggilan akrab pria kelahiran Jeneponto ini menawarkan.

BACA JUGA:  Perlindungan Hukum Terhadap Wartawan

“Boleh, kopi saja,” jawab saya.

Saya sering berkomunikasi dengan dia melalui akun facebook-nya setelah melaporkan dari kiri atau kanan anjungan KM Tilongkabila saat kapal akan merapat atau meninggalkan satu pelabuhan. Informasinya sangat membantu calon penumpang karena menyebut posisi kapal dengan jumlah penumpang sekaligus informasi cuaca pelayaran. Makanya, saya anggap Ifonk termasuk salah seorang “selegram” KM Tilongkabila, ha..ha..

Setelah selesai menyeduhkan kopi, Ifonk mengajak saya duduk di salah satu kursi dan ada meja kecil di sebelah kiri ruang kemudi. Kami berhadapan, tentu saja tidak bisa saling mengenali wajah masing-masing. Saya mengenakan pet kerucut warna abu-abu dengan baju kemeja lengan pendek kotak-kotak abu-abu kombinasi hitam muda. Saya jelas tidak bisa melihat Ifonk memakai baju warna apa.

Di tengah temaram ruang kemudi kapal, kami berbincang-bincang banyak hal dari ujung pukul ujung. Ternyata Ifonk tidak sendiri di KM Tilongkabila. Selain dia masih ada kakak dan seorang iparnya.

“Jadi saya ini boleh dikatakan keluarga Pelni,” ucapnya dalam pelayaran yang sempat saya tengok sebelumnya berada di posisi sudah siap melintas di antara Pulau Tanekeke dengan daratan Takalar, tepat di ujung barat selatan Pulau Sulawesi.

BACA JUGA:  Jumpa Srikandi KM Tilongkabila; (3-Habis) Berawal dari Tak Pede

Kami berbincang-bincang tentang banyak hal. Termasuk Ifonk bertanya tentang situasi pelajar mahasiswa Bima yang merupakan mayoritas penumpang KM Tilongkabila trayek Makassar-Labuan Bajo dan sebaliknya pada setiap pelayaran kapal. Termasuk juga saya kisahkan tentang awa; mula berkenalan dengan istri sekarang dengan segala kisah yang menyertainya.