Jumpa Srikandi KM Tilongkabila; (2) Selat Bali, Tes Pertama Sebagai Pelaut

Srikandi
Dari kiri: Muh.Luthfi Ardiansyah (Markonis), Penulis, Nur Azizah Muhidin, dan Capt.Subair (Nakhoda KM Tilongkabila).

Catatan M.Dahlan Abubakar

NusantaraInsight, Makassar — Usai pelatihan di Jakarta, Nur Azizah M. langsung ditempatkan di KM Tilongkabila. Kebetulan pula pada tanggal 12 November 2025, saat KM Tilongkabila memulai pelayaran dari Benoa Bali melintasi 10 pelabuhan di tengah Indonesia, yakni Lembar (Lombok), Bima (Sumbawa), Labuan Bajo (Flores), Makassar (Sulsel), Baubau, Raha, Kendari (Sultra), Luwuk (Sulteng), Gorontalo, dan Bitung, Sulut (pp), dia mulai bergabung. Saat melintas di Selat Bali, Nur Azizah H.”dites” sebagai pelaut baru. Dia sempat mual-mual dan mabuk dioleng gelombang Selat Bali yang terkenal dengan ombaknya yang kurang ramah.

Dalam catatan, gelombang laut Selat Bali ini bisa mencapai 1 s.d.6m. Apalagi pada bulan-bulan November, Desember, Januari, dan Februari. Azizah sampai ke kamar muntah-muntah. Itu terjadi tak lama setelah berlangsung pemeriksaan tiket penumpang.

“Kamu harus minum air laut sebagai orang pertama yang menjadi pelaut,” kata anak buah kapal yang lain.

Setelah cobaan Selat Bali itu, Azizah sadar bahwa gangguan seperti ini tidak dimanjakan. Kalau dimanjakan bisa menjadi kebiasaan.

BACA JUGA:  Negosiasi, Harga Mati, dan Presisi (4): (Kisah Operasi Kepolisian Menyelamatkan Penculikan Bocah Asal Makassar)

“Ya, satu kali itu saja saya mual,” ujar Azizah dalam bincang-bincang di ruang Informasi Dek 5 KM Tilongkabila, Ahad (29/3/2026) malam, sekitar 4 jam sebelum kapal merapat di Pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar.

Azizah yang lulusan Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Tanjung Makassar 2025 ini menjabat Jenang II dengan posisi sebagai Kepala Departemen Pelayanan dan Permakanan. Yang dia bawahi adalah ABK yang berposisi sebagai Pelayan dan Perbekalan (P2), Pelayanan dan Permakanan, dan Klinik. Istilah kerennya “Second Purser”, yakni jabatan kedua di bawah “Chief Purser” yang bertanggung jawab pada soal administrasi dan pelayanan penumpang di atas kapal.

Sebagai salah seorang yang bertanggung jawab terhadap menu penumpang di kapal, Azizah merupakan orang pertama yang harus mencicipi makanan sebelum dibagikan ke pemumpang. Itulah sebabnya, Nakhoda KM Tilongkabila, Capt. Subair menyebut Azizah sebagai “Manajer” MBG. Ha..ha..

“Nanti ada penumpang yang komplain, Ini kurang ini, kurang itu,” ungkap sulung empat bersaudara ini.

Jadi tugas Azizah adalah menjaga rasa dan selera menu penumpang. Menjaga kualitas makanan tetap terjaga dan higienis. Yang tidak kalah pentingnya, menjaga kebersihan kapal masih merupakan tanggung jawabnya.

BACA JUGA:  Catatan Olahraga: Seabrek Beban Ketua KONI Sulsel yang Baru

“Kalau ada yang kotor-kotor, saya biasa memanggil petugas “cleaning service”-nya,” ujar lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pariwisata Putra Bangsa Bulukumba ini.