Kembali Jadi Kota Dunia & Dg.Mangalle

Kota dunia
Peserta diskusi buku Sejarah Makassar foto bersama (foto istimewa)

Catatan M.Dahlan Abubakar

NusantaraInsight, Makassar — Ketika berlangsung pembahasan buku Sejarah Kerajaan Makassar:” Discription Historiqur du Royume de Macacar, karya Nicolas Garvaise di ruang Sunachi Suki Restaurant, Hotel Claro Makassar, Minggu (14/12/2025), ada dua isu paling mendasar yang mengemuka.

Buku yang diterjemahkan Prof.Dr.H.Adi Mardi Amin, M.Hum (2022) ini memang memantik antusiasme para pencinta sejarah, akademisi, dan pegiat budaya, politisi dan wartawan berkumpul saat itu.

Pertama, mengisahkan Makassar sebagai kota dunia hampir tujuh abad silam. Kedua, mengemukanya seorang bernama Daeng Mangalle yang berjuang di Negeri Ayuthia, Siam (Thailand sekarang).

Anomali Kota Dunia

Wacana pertama — kota dunia — ini memang tidak secara khusus dibahas bersumber dari buku Garvaise itu. Namun, menarik menjadi bahan diskursus kita ke depan karena beberapa waktu yang lalu Makassar memasang tagline “menuju kota dunia”.

Tagline ini menjadi anomali jika kita kembali menengok ke abad IX, ketika Kerajaan Gowa dipimpin oleh Tumapa’risi, raja IX. Saat itulah selain mampu mengalahkan kerajaan-kerajaan sekitarnya, Gowa — yang merupakan kerajaan kembar Gowa-Tallo — mengalami kemajuan yang luar biasa dengan kekuasaan yang dijalankan dan dipusatkan di Sombaopu yang juga menjadi ibu kota kerajaan.

BACA JUGA:  Negosiasi, Harga Mati, dan Presisi (1): (Kisah Operasi Kepolisian Menyelamatkan Penculikan Bocah Asal Makassar)

Kota ini sangat aman dan terlindung karena dikelilingi oleh banyak benteng yang mampu menahan serangan musuh. Tumapa’risi pada masa kepemimpinannya membangun Benteng Sombaopu ini.

“Kerajaan yang kuat harus mempunyai benteng yang kuat,” titah Tumapa’risi dalam buku seri pahlawan “Sultan Hasanuddin” karya Sutrisno Kutoyo dan Mardanas Safwan (2001).

Kemajuan yang dialami Kerajaan Gowa ini karena membuka diri dengan bangsa-bangsa lain yang hendak berniaga. Pada masa kepemimpinan Raja Gowa IX ini diciptakan aksara Makassar oleh Syahbandar Kerajaan Gowa, Daeng Pammate. Sejak saat itulah orang-orang Gowa mulai mencatat peristiwa-peristiwa penting penting yang terjadi di kerajaan. Salah satu di antaranya “lontarak bilang”.

Di tengah kemakmuran dan kemajuan, Sombaopu pun menjadi “kota dunia”. Suatu hari seorang asing bernama Nakhoda Bonang bertandang. Ia berkata saat menghadap Tunipalangga, Raja Gowa X yang menggantikan Raja Tumapa’risi yang wafat.

“Tuanku, perkenankanlah kami tinggal di Kerajaan Gowa. Kami datang menghadap Tuanku mewakili banyak golongan. Kami wakil pedagang dan perantau di negeri Tuanku, yang berdatangan dari Pahang (Malaysia), Patani (Thailand), Campa, Johar, Jawa, dan Minangkabau”.