Oleh : Rahman Rumaday
_Founder Komunitas Anak Pelangi (K-apel) & Kampus Lorong K-apel_
NusantaraInsight, Makassar — Bang Maman, K-apel itu sebenarnya apa sih?”
Pertanyaan itu sering datang dengan nada penasaran, kadang di warung kopi, kadang di lorong sempit yang dindingnya penuh cerita.
Kalau ditanya, apa yang paling kami pelajari selama ini?”
Saya sering terdiam sebentar, lalu menjawab pelan, “bahwa kebaikan tidak pernah terburu-buru.”
“Kalau dipikir-pikir, yang membuat kita sampai hari ini itu bukan karena kita paling hebat,”
“Lalu karena apa?”
“Karena kita tidak berhenti.”
Jum’at, 12 Desember 2025, menjadi satu halaman penting dalam buku panjang perjalanan Komunitas Anak Pelangi (K-apel). Siang itu selepas sholat jum’at, kami diundang hadir di Kompas TV Makassar dalam program inspiratif Sapa Nusantara. Saya hadir sebagai Founder Komunitas Anak Pelangi (K-apel) dan Kampus Lorong K-apel, bersama Ketua K-apel, Suriati Tubi. Dipandu hangat oleh Wafiq Azizah, percakapan mengalir ringan, seperti berbincang di beranda rumah. Tidak ada yang dibuat-buat. Yang ada hanya cerita tentang perjalanan, tentang keyakinan, tentang cinta yang dipilih untuk terus dibagikan.
Karena kami percaya, “hidup bukan tentang seberapa cepat dikenal, tetapi seberapa lama mampu bertahan dalam kebaikan.”
#BerbagiItuCinta
Di layar kaca, kami tidak sedang memamerkan capaian, melainkan menyampaikan ikhtiar. Tentang Komunitas Anak Pelangi (K-apel) yang tumbuh dari lorong-lorong, dari keterbatasan yang dipeluk menjadi harapan. Tentang pendidikan yang tidak menunggu gedung megah, pemberdayaan yang tidak menunggu anggaran besar, dan literasi yang lahir dari cinta. Sebab, seperti kata Paulo Freire, “Pendidikan tidak mengubah dunia. Pendidikan mengubah manusia. Manusia mengubah dunia.”
Terima kasih kepada KompasTV yang telah memberi ruang bagi K-apel. Ruang itu adalah pengakuan bahwa kerja sunyi pun layak didengar. Namun kami percaya, ini bukan soal lamanya perjalanan, melainkan tentang konsistensi. Bukan soal seberapa sering disorot, tetapi seberapa setia melayani. Alhamdulillah, K-Apel telah 15 tahun konsisten dan istiqamah berbagi cinta, karena “sesuatu yang dilakukan dari hati, akan sampai ke hati.”
Dicurigai, Disalahpahami, Tapi Tetap Melangkah
Awal-awal K-apel berdiri, tidak ada tepuk tangan. Yang ada justru tatapan curiga. Saya pernah dituduh sebagai penculik anak. Ada yang menyebut saya misionaris. Ada pula yang menganggap apa yang saya lakukan punya agenda tersembunyi. Semua itu datang silih berganti, tanpa sempat kami jelaskan satu per satu.












