Pemimpin Humanis Berintegritas dan Pemimpin Alfa di Pemerintahan Karya Prof Muhammad Jufri di “Beta” kan

“Mengapa tidak memakai judul yang lebih menggugah orang untuk membacanya,” tanyanya.

Komentar Asniar senada dengan tanggapan dua penanya, yaitu Andi Wanua Tangke dan Rahman Rumaday.

Andi Wanua Tangke atau AWT yang juga seorang penulis dan penerbit ini mengkritisi terkait diksi Pemimpin Humanis ini.

Menurutnya, sisi humanis yang digambarkan dalam buku, tidak menyentuh sisi humanis kepada masyarakat. Isi buku hanya menggambarkan sisi humanis di internal pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan saja, karena tak ada komentar atau tanggapan masyarakat yang sepadan dengan diksi humanis itu.

Tanggapan AWT diperkuat oleh Rahman Rumaday, yang secara eksplisit menyatakan bahwa buku ini semacam laporan pertanggungjawaban semata bahkan sampul buku yang menampilkan foto Prof Zudan memakai baju setelan gubernur, sangat tidak humanis dari sisi sampul.

“Foto pada sampul semakin membuat jarak antara masyarakat dan gubernur, tidak ada sisi humanis-nya sama sekali,” tegasnya.

Namun, di sisi lain, ia menyebutkan sangat bersyukur karena pada hari ini, mendapatkan buku secara gratis berharga Rp.108.400,-, yang kemudian ditanggapi oleh Bagas seorang mahasiswa yang menyatakan harga seperti itu untuk mahasiswa sangat berat untuk dibeli.

BACA JUGA:  K-Apel Gelar Diskusi Budaya Membaca-Membaca Budaya, Prof Mardi: Perlu Ada Ideologi Baru dalam Kebudayaan

Pemimpin Alfa di Pemerintahan

Buku kedua yang juga di-Beta-kan (dibedah tanpa ampun) oleh para penanggap adalah Buku Pemimpin Alfa yang tim penyusunnya hampir sama dengan buku pertama.

Perbedaannya, pada buku pertama Prof Jufri sebagai editor buku, dan pada buku setebal 152 halaman ini, dirinya tampil sebagai penulis buku bersama lima penulis di buku pertama.

Buku yang ber-ISBN 978-634-205-254-9 masih diterbitkan oleh PT. Nas Media dan dibandrol dengan harga Rp.95.400,- untuk harga Pulau Jawa.

Buku yang merupakan cetakan kedua pada Agustus 2025 ini merupakan buku yang terbilang baru yang menuliskan model kepemimpinan alfa di pemerintahan.

Hal ini disampaikan oleh pembedah Dr. Syamril dari Kalla Institute yang kemudian memberikan beberapa model kepemimpinan melalui slide.

Direktur Sekolah Islam Athirah ini juga menjelaskan bahwa keberhasilan suatu organisasi atau lembaga dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu Value 25 persen, System 35 persen dan Leadership 40 persen.

“Dari 3 persentase ini, leadership atau kepemimpinan menjadi faktor penting berhasilnya suatu organisasi,” ungkapnya.

BACA JUGA:  PAGAR LANGIT

Ia juga menyinggung bahwa model kepemimpinan Alfa dalam buku berupa visi dan motivasi, kepemimpinan dan pengaruh, empati dan kolaborasi, adaptasi dan ketahanan serta pengambilan keputusan dan tanggung jawab sangat sejalan dengan falsafah hidup masyarakat Bugis Makassar yaitu Sulapa Eppae.

“Di mana Sulapa Eppae itu memuat 4 falsafah yaitu Macca (Pandai), Malempu (jujur), Warani (Berani) dan Magetteng (teguh). Ini juga tercermin pada 4 sosok J di Sulsel yaitu, Syek Jusuf, Jenderal M. Jusuf, Jusuf Habibie dan Jusuf Kalla,” ulasnya.

Ia bahkan akan menjadikan rujukan buku ini dalam ruang-ruang kelas kepemimpinan yang akan diajarkannya.

“Karena ini sangat jelas, dan memiliki indikator tentang kategori pemimpin Alfa,” pungkasnya.

Sementara itu, Dr. Rahmat Muhammad “sedikit nakal” mencolek Prof Jufri yang terlambat hadir.

“Saya tadi, sudah berfikir, jika Prof Jufri ini tidak hadir, maka saya menganggap beliau bukan pemimpin alfa, namun sebelum saya memberikan komentar terkait buku ini, beliau sudah hadir, artinya beliau ini pemimpin Alfa,” kata Dosen yang juga penulis ini.

BACA JUGA:  Tancap Gas, Jufri Rahman Disposisi Surat Bisa Dimana Saja

Ia secara luas menyampaikan bahwa buku Pemimpin Alfa di Pemerintahan ini, termasuk belum lazim ditelinga kita.

Namun, ia mengakui bahwa buku ini cukup lengkap karena memuat sejumlah indikator yang memuat kriteria apakah seseorang itu dapat disebut pemimpin Alfa atau tidak.