Kebijakan “menyuntik pemain asing” yang tidak lahir di Indonesia dan tidak ditempa dan berlaga dalam sistem kompetisi domestik ini pada awalnya merupakan kontroversi besar atas nama nasionalisme. Banyak yang menentang. Namun setelah melihat prestasi timnas yang terus moncer dan mengalami peningkatan signifikan di peringkat FIFA (kini pada #134 setelah kemenangan atas Vietnam, namun Erick Thohir masih membidik 100 Besar), semakin banyak masyarakat Indonesia mendukung program naturalisasi ini.
Ada dua hal penyebabnya.
Pertama, pemain yang dinaturalisasi masih punya darah Indonesia, entah dari ayah-ibu atau kakek-nenek mereka. Ini berbeda dengan pemain naturalisasi timnas Malaysia yang tidak mengharuskan adanya hubungan darah. Bagi negeri jiran, jika ada pemain asing yang sudah merumput beberapa tahun di liga mereka bisa langsung dinaturalisasi.
Kedua, program naturalisasi timnas negara lain yang paling sukses sejauh ini ditunjukkan oleh Maroko yang berhasil meraih peringkat empat (mencapai semifinal) di Piala Dunia Qatar 2022. Ini prestasi spektakuler yang tak pernah dibayangkan bahkan oleh mereka sendiri sebelum turnamen dimulai dimulai.
Dari 26 nama pesepakbola yang dipanggil Pelatih Walid Regragui untuk menyusun timnas Maroko, 14 di antara mereka adalah pemain hasil naturalisasi yang lahir di luar Maroko dan mengikuti kompetisi di sejumlah liga Eropa. Di antaranya Hakim Ziyech (lahir di Belanda; klub terakhir Chelsea), Achraf Hakmi (Spanyol; Paris-Saint-Germain), Noussair Mazraoui (Belanda; Bayern Munich), dan Yassine Bounou (Kanada; Sevilla).
3/
Nasionalisme di dalam sepak bola–dan dalam bidang kehidupan apa pun–sudah tak bisa lagi dilihat secara sempit hanya berdasarkan tempat lahir semata di tengah ‘dunia tanpa batas’ ( _borderless world_)—meminjam istilah yang digunakan Kenichi Ohmae dalam buku berjudul sama.
Hatta seseorang yang lahir di Tanah Ibu Pertiwi, besar dan bekerja di Indonesia, tetapi jika tega melakukan korupsi sampai Rp271 triliun seperti komplotan _haram jadah_ yang menggasak PT Timah—seorang pelaku bahkan pernah menjabat Ketua Satgas Tambang Timah Ilegal!—maka orang-orang ini sama sekali bukan nasionalis, berapa pun besar pajak pribadi yang pernah mereka bayarkan kepada negara. Sejatinya, mereka adalah pengkhianat bangsa.
Kembali ke topik utama tentang timnas PSSI, karena itu sangat disayangkan jika dari kalangan pemain sepak bola sendiri sampai muncul resistensi terhadap program naturalisasi seperti pernyataan kontroversial M. Tahir, 30 tahun, eks-pemain PSBS Biak, beberapa hari lalu.
Dalam siniar di kanal _YouTube_ Akmal Marhali, pengamat sepak bola dan Koordinator Save Our Soccer, Tahir menganggap remeh para pemain hasil naturalisasi sekaligus mengglorifikasi pemain Liga 1. Dia usulkan PSSI melakukan pertandingan antara dua kelompok pemain itu. Kontan saja warganet merespon sengit dengan menyuruh Tahir untuk memperbaiki kemampuannya sendiri sebagai pemain Liga 2, ketimbang nyinyir tak keruan.
Tahir lupa bahwa naturalisasi adalah sebutan untuk _proses_, bukan untuk status yang melekat permanen. Pesepak bola seperti Ragnar Oratmangoen yang sudah mengucapkan sumpah setia sebagai WNI adalah kini ATLET INDONESIA layaknya Asnawi Mangkualam, Pratama Arhan, Ricky Kambuaya atau Ramadhan Sananta.
Melalui Ragnar, ‘Profesor’ Thom Haye. ‘Bang Jay’ Jay Idzes, Justin Hubner yang ‘Ganteng-Ganteng Srigala’ (agresif di lapangan dan galak terhadap pemain lawan yang suka membully Indonesia seperti pemain Vietnam Nguyen Van Truong yang dipelototi Justin), dan pemain-main diaspora Indonesia lainnya, yang sedang terjadi pada hakekatnya adalah “Natura Tunggal Ika”.












