Jika Kluivert Latih Timnas Indonesia Penonton Menikmati “Sate Rasa Keju”

Kluivert
Patrick Kluivert

“Penunjukkan Kluivert akan membantu memuluskan Jairo Riedewald (Antwerp), pemain yang tiga kali membela timnas Belanda dan Mitchel Bakker (Lille) untuk mau bermain bagi Indonesia,” demikian pernyataan ad.nl.

Dengan tambahan kedua pemain tersebut, kemudian Ole Romeney yang sekarang bergabung di klub FC Oxford, milik keluarga Bakrie, ad.nl melihat peluang Indonesia melaju ke Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat-Kanada makin besar.

Namun, ad.nl juga menyadari bahwa tugas Kluivert sangat berat. Persoalannya adalah dalam 10 tahun terakhir Kluivert tidak menunjukkan prestasi moncer menangani klub maupun timnas. Kluivert pernah menjadi asisten Ange Posteceglu di klub Brisbane Roar asal Australia. Menjadi asisten Clarence Seedorf saat menukangi timnas Kamerun. Kemudian menjadi pelatih timnas Curacao, sebelum digantikan Dick Advocaat.

Kluivert sebetulnya berpeluang moncer, menurut ad.nl saat menangani klub Turki Adana Demirspor. Setelah sebelumnya sempat icip posisi di kepala teknik kepelatihan di FC Barcelona, direktur olahraga PSG. Namun di Turki, menurut ad.nl, Kluivert malah berantakan setelah enam bulan.

BACA JUGA:  Mantan Bek PSM Jadi Pemain Indonesia Pertama Tampil di Liga Filipina

“Gajinya kerap telat dibayarkan, pemilik klub nya selalu intervensi.”

Bagaikan “Sate rasa keju”

Jika kelima pemain asal Belanda plus yang akan diboyong Kluivert itu jadi direkrut oleh pelatih baru tim Garuda Patrick Kluivert, tentu saja tim Merah Putih itu semakin berjaya, Hanya saja, pemain-pemain domestik akan kian tenggelam jika tidak mampu menampilkan performa terbaiknya. Meskipun dalam kenyataannya, reputasi pemain asli Indonesia tidak kalah dengan pemain naturalisasi. Katakanlah seperti Marselino Ferdinan dan Risky Ridho yang selalu tampil dalam setiap laga dengan fisik yang tetap prima selama digembleng STY.

Melihat derasnya arus naturalisasi pemain ini, saya mengkhawatirkan PSSI tidak lagi fokus melakukan pembinaan usia dini untuk memperoleh bakat-bakat pemain lokal yang potensial. Sangat dikhawatirkan, para pemain lokal tidak akan menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Klub-klub liga I Indonesia saat ini pun bermandikan pemain-pemain asing yang kualitasnya tidak kalah dengan pemain awak sendiri. Bahkan di liga 2 pun bertebaran pemain asing.

Kalau saja para pemain boyongan pelatih baru tersebut benar-benar bergabung dengan tim Garuda, maka para penonton Indonesia hanya bisa mengenali pemain timnya sendiri dari kostum dan simbol Garuda yang dikenakannya. Habis wajah-wajah mereka lebih banyak asing dan mirip bule, meskipun ada wajah Belanda-Indonesia. Kalau saja tim ini diibaratkan makanan yang disantap, maka kita seakan menikmati “sate rasa keju”. Ha..ha…

BACA JUGA:  Piala Dunia 2026: Australia Tekuk Turki 2-0. 

Kita tunggu gebrakan pertama pelatih asal Belanda ini 20 Maret 2025 melawan Australia di Sydney Australia dan 25 Maret menjamu Bahrain di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta. Mudah-mudahan STY menahan diri tidak mengatakan “mat-in” (bahasa Korea, mat :rasa). (*).