Nona Ambon, Makassar, dan Lagu Anging Mammiri

Pertama, di Maricaya, Jalan Gunung Nona, belakang Latanete Plaza. Kedua, di Mattoanging, di Jalan Bangau, dekat kolam renang Mattoanging. Ketiga, di kampung Mariso. Walau punya perkampungan sendiri tetapi mereka berbaur dengan masyarakat setempat.

Sejumlah tokoh, olahragawan, dan seniman lahir dari sini, sebut saja pesepak bola Nus Pattinasarani, yang bermain di PSM Makassar era Ramang. Juga nama Ronny dan Donny Pattinasarani yang pernah membela kesebelasan Juku Eja. Penyanyi Andre Hehanusa juga tercatat lahir dan besar di Makassar, serta perupa Dicky Tjandra.

Lorong Waktu Lagu-Lagu Nusantara

Lokananta merupakan nama yang pasti ditemukan begitu kita menelusuri jejak sejarah industri musik di Indonesia. Bagaimana tidak. Lokananta adalah studio rekaman atau studio musik pertama di Tanah Air (kemenpar.go.id).

“Lokananta” dalam bahasa Sansekerta artinya gamelan dari kayangan yang bersuara merdu. Awalnya, studio yang berdiri tahun 1955 di Surakarta (Solo) ini, hanya digunakan untuk merekam dan memproduksi piringan hitam guna keperluan siaran internal RRI yang tersebar di 26 stasiun se-Indonesia.

BACA JUGA:  Cicilan Huruf #4: Menjala Kunang-kunang di Pasar Senja, Pare, Kediri, Jawa Timur

Memasuki tahun 1958, Lokananta mulai memproduksi lagu-lagu daerah dari seluruh Indonesia. Misalnya, lagu Melayu Banjar, “Ampar-Ampar Pisang”, lagu Minang, “Sansaro Badan”, lagu Batak, “Butet”, dan lagu Melayu, “Seringgit Dua Kupang”, semuanya direkam di situ.

Dari khazanah lagu Maluku, ada lagu “Mande-Mande” dan “Sarinande” yang dinyanyikan Bob Tutupoly. Rekaman dengan iringan orkes Didy Pattirane itu dibuat tahun 1959. Sedangkan lagu “Anging Mammiri” yang dibawakan Meity Joseph, dengan iringan orkes Maredja-Redja diperkirakan juga direkam pada tahun yang sama.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 215 Tahun 1961, Studio Lokananta berubah status menjadi Perusahaan Negara (PN), dengan nama baru PN Lokananta. Bidang usahanya diperluas menjadi label rekaman yang berfokus pada karya lagu-lagu daerah, serta pertunjukan seni dan penerbitan buku dan majalah.

Ketika Indonesia didaulat sebagai tuan rumah penyelenggaraan Asian Games IV di Jakarta, tahun 1962, Lokananta punya peran penting dalam diplomasi budaya. Sejumlah lagu daerah, seperti “Rasa Sayange”, direkam pada piringan hitam kemudian dijadikan cendera mata untuk dibagikan kepada setiap kontingen pesta olahraga negara-negara se-Asia itu (indonesia.go.id).

BACA JUGA:  Om Nasihati Keponakan di DKSS: Ketika Perempuan Bercerita Tentang Perempuan

Sejumlah penyanyi dan musisi legendaris Indonesia pernah rekaman di Lokananta, antara lain Gesang, Waldjinah, Titiek Puspa, Bing Slamet, Sam Saimun, dan Buby Chen. Berpuluh-puluh tahun berlalu, nama Lokananta meredup. Nanti terdengar kembali setelah White Shoes and the Couples Company dan Glenn Fedly–penyanyi dan pencipta lagu berdarah Maluku–rekaman di studio bersejarah itu.

Lokananta disebut sebagai lorong waktu musik Indonesia, dengan aset berupa kekayaan data, arsip, dan koleksi rekaman piringan hitam. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, yakni mencapai 53.000 piringan hitam, dan 5.670 master rekaman bersejarah, di antaranya lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Di situ tersimpan master rekaman lagu Minang, Batak, Maluku, Sumatra, Jawa hingga Makassar. Semuanya masih tersimpan baik dalam rak-rak besi dengan pengaturan suhu guna menjaga kelestariannya.

Penciptanya dari Korps Musik Militer

Bora Daeng Irate disebut sebagai pencipta lagu “Anging Mammiri”. Lagu yang diciptakan tahun 1940an itu bercerita tentang kerinduan seseorang karena terpisah jauh dari kekasihnya. Konon, syair lagu ini berasal dari syair di buku Lontara Mangkasarak, berintikan ilmu pesona, penarik perhatian (Yudhistira Sukatanya dan Goenawan Monoharto [ed.], 2000).