Nabi Ismail yang masih belia itu menjawab, yang artinya “Diaُ (Ismail)ُ menjawab,ُ ‘Wahaiُ ayahku!ُ Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Aallah engkau akan mendapatiku termasuk orangُyangُsabar.”ُ
Dengan hati yang sedih dan raut wajah yang dipenuhi linangan air mata, keduanya harus sama-sama ikhlas dan rida demi memenuhi perintah Tuhannya, bahkan Nabi Ibrahim harus mengurbankan anaknya sendiri. Disembelih di hadapannya dan dilakukan dengan tangannya sendiri. Nabi Ibrahim membawa putranya ke sebuah tempat dan membaringkannya di atas pelipisnya.
Dikisahkan bahwa saat-saat yang menyedihkan ini, Nabi Ismail berpesan dan meminta untuk diikat dengan kencang, pisaunya dipertajam dan gerakan sembelihannya dipercepat. Ia pun meminta salam kepada ibunya tercinta dan meminta agar wajahnya ditelungkupkan agar tak terlihat oleh ayahnya, kuatir menjadi cerita sedih untuk ayah dan ibunya.
Nabi Ibrahim melaksanakan semua permohonan dan permintaan putranya itu dan saat pisau mulai bergerak, saat itu pula Allah swt berfirman:yang artinya,ُ “Laluُ Kamiُ panggilُ dia,ُ ‘Wahaiُ Ibrahim!ُ Sungguh,ُ engkauُ telahُ membenarkanُ mimpiُ itu.’ُ Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami abadikan untuk Ibrahim (pujian) di kalangan orang-orang yang datang ُkemudian.”ُ(QSُAs-Saffat: 104-108).
Itulah kisah ketegaran Nabi Ismail dalam menjalankan perintah Allah swt. Dilakukannya dengan penuh keikhlasan dan kesabaran, sekalipun nyawa akan menjadi taruhannya. Padahal di zaman itu, adalah zaman kekuatan raja dan zaman penuh dengan ketakutan dan ketidakbebasan. Saat itu adalah jaman bayi laki-laki dibunuh dan dikubur hidup-hidup tanpa rasa belas kasih.
Ibrahim dan keluarganya hidup di Zaman Raja Namrud (Nimrod) di Mesopotamia dikenal sebagai salah satu periode paling gelap dan keras dalam sejarah peradaban manusia kala itu. Namrud, dikenal sebagai penguasa yang sangat angkuh, zalim, dan mengaku sebagai Tuhan. Ia memaksa rakyatnya menyembah berhala dan mengklaim dirinya sebagai Tuhan. Siapa pun yang menentang akan dibunuh tanpa ampun. Karena rasa takut akan masa depannya, Namrud memerintahkan tentara untuk membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir di wilayahnya.
Menurut Prof. Budu, kekejaman dan kezaliman yang nyata, dikisahkan dalam Alquran, ia memerintahkan pembakaran hidup-hidup terhadap Nabi Ibrahim as menggunakan api yang sangat besar, hingga asapnya menutupi langit seperti malam hari.













