_By : Rahman Rumaday_
Founder K-apel dan Kampus Lorong K-apel
NusantaraInsight, Makassar — Saya tidak pernah benar-benar merencanakan untuk belajar satu pengetahuan yang langka dan dari seorang jurnalis. Dalam bayangan saya, pengetahuan yang langka seperti tasawuf adalah wilayah para kiai, para mursyid, atau mereka yang menghabiskan hidupnya di ruang-ruang sunyi dengan wirid yang panjang.
Tapi pagi itu, tanggal 26 Maret 2026 di penghujung suasana Idul Fitri 1447 H, persepsi itu perlahan runtuh digantikan oleh pengalaman yang jauh lebih hidup, lebih membumi, dan lebih menyentuh.
Semua bermula dari ajakan makan kolak.
“Ke rumah makan kolak,” tulis Om Awing di WhatsApp, tepat pukul 08.41.
Saya yang saat itu sedang serius di depan laptop, mencoba menyelesaikan beberapa pekerjaan, sejenak terdiam. Saya baca ulang pesannya, lalu tanpa berpikir panjang membalas,
“Siap! Om, insya Allah.”
Saya lanjutkan,
“Saya dari Sudiang meluncur. Saya nginap di tol tadi malam.”
Tidak lama, balasan masuk, dari om Awing
“Dehhh… jauhnya.”
Saya tersenyum kecil. Tidak saya balas lagi. Entah kenapa, saya langsung menutup laptop. Ada dorongan yang sulit dijelaskan. Seolah-olah panggilan itu bukan sebatas ajakan makan kolak. Ada sesuatu yang lebih dalam.
Perjalanan pagi itu terasa seperti perjalanan batin yang sedang disusun pelan-pelan. Motor beat merah saya melaju dari arah paling utara kota Makassar ke arah paling selatan Kota Makassar.
Jalanan tidak sepenuhnya bersahabat beberapa titik macet seperti biasa. Padahal, kalau lancar, jarak itu hanya butuh waktu 35 sampai 50 menit. Tapi hari itu, hampir satu setengah jam saya di jalan.
Di atas motor, saya sempat bergumam sendiri,
“Ini kolak atau ujian kesabaran, ya?”
Saya tersenyum sendiri.
Angin pagi menjelang siang menyapu wajah saya. Dalam perjalanan itu, saya seperti sedang diajak berdialog dengan diri sendiri. Tentang silaturahmi, tentang niat, tentang langkah-langkah kecil yang kadang membawa kita ke pertemuan besar.
Dan akhirnya saya sampai di TKP tepatnya di Jalan Landak rumah om Awing, saya memarkir motor. Menarik napas sejenak. Lalu berjalan menuju pagar rumah Om Awing.
“Assalamu’alaikum…”
Tidak lama, pintu terbuka. Om Awing muncul dengan wajah yang hangat.
‘Wa’alaikumussalam… masuk ki’, Bang Maman,” katanya sambil tersenyum.
“Iye’ Om,” jawab saya.
Saya masuk. Suasana rumah terasa tenang. Di ruang tamu, toples-toples kue lebaran tersusun rapi. Sejumlah jenis minuman juga berdiri tegak diatas meja seolah siap menjemput tamu yang berkunjung. Tapi entah kenapa, saya merasa ada sesuatu yang sedang disiapkan bukan sebatas hidangan, tapi pengalaman.












