NusantaraInsight, Makassar — Ada orang yang menyambut dengan gembira bulan Ramadhan dan memanfaatkan bulan Ramadhan dengan baik untuk melakukan berbagai macam amalan wajib dan sunnah.
Mereka melaksanakan puasa, melaksanakan shalat tarwih, membaca dan mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an, bersedekah, mengeluarkan zakat, serta berdoa memohon ampun kepada Allah atas segala dosa yang telah diperbuat.
“Mereka juga menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadhan dengan melakukan i’tikaf di masjid atau melaksanakan shalat tahajjud pada tengah malam secara berjamaah di masjid. Niatnya mengharapkan mendapatkan malam lailatul qadar dan ridha Allah. Orang-orang inilah orang yang beruntung di bulan Ramadhan,” tutur Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel, Asnawin Aminuddin.
Hal itu ia sampaikan saat membawakan ceramah seusai shalat lohor berjamaah di Mushallah Rumah Sakit Muhammadiyah Unismuh Makassar, Jalan Tun Abdul Razak, Gowa, Senin, 16 Maret 2026.
“Sebaliknya, orang-orang yang menyambut bulan suci Ramadhan dengan biasa-biasa saja, tanpa memuliakan bulan Ramadhan dan tidak berupaya menghidupkan bulan Ramadhan dengan berbagai amalan wajid dan sunnah, tidak merindukan malam lailatul qadar, serta tidak memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi, bahkan bisa termasuk orang celaka,” tutur Asnawin.
Pembina Al-Islam dan Ke-muhammadiyah dan Kerohanian RS PKU Muhammadiyah Unismuh Makassar kemudian menceritakan sebuah hadits dari Jabir RA, bahwa Rasulullah SAW suatu hari naik ke mimbar untuk berkhutbah.
Ketika beliau naik ke anak tangga pertama, kedua, dan ketiga beliau mengucapkan, “Aamiin”. Setelah selesai khutbah, Rasulullah ditanya oleh sahabat, bahwa sahabat mendengarkan Rasulullah mengucapkan sesuatu ketika naik ke mimbar.
“Rasulullah kemudian menjelaskan bahwa ketika hendak naik ke mimbar, ia didatangi oleh Malaikat Jibril. Ketika Rasulullah menaiki tangga pertama, Jibril mengatakan, celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadan namun dosanya tidak diampuni. Maka Rasulullah mengucapkan; Aamiin,” papar Asnawin.
Ketika Rasulullah naik ke tangga kedua, Jibril berkata, celakalah seorang hamba, jika mendapati kedua orangtuanya atau salah satu orang tuanya masih hidup di usia tua, namun keberadaan kedua orang tuanya tidak membuatnya masuk ke dalam surga. Maka Rasulullah pun mengucapkan, Aamiin.
Begitu pun saat Rasulullah naik ke tangga ketiga, Jibril berkata, celakalah seorang hamba, jika namamu disebutkan di hadapannya tapi dia tidak bershalawat untukmu. Maka Rasulullah pun mengucapkan, Aamiin.












