Eko menggarap tata artistik dengan ketelitian: desain poster almarhum Imtihan Taufan memberi identitas visual yang kuat—poster bergaya grafis, warna yang diredup, tipografi kasar menggema dengan estetika pertunjukan. Di panggung, setiap unsur sensorik diperlakukan sebagai tanda: bunyi logam, gesekan kain, kilat cahaya yang menembus asap, menjadi “bahasa” pementasan. Ruang bukan latar, tetapi subjek.
Gerak aktor—patah, repetitif, terkadang mekanis—menginstruksikan penonton untuk “membaca” tubuh sebagai arsip sosial. Bukan sekadar melihat, tetapi mengindera: merasakan kelelahan, kebosanan, ketakutan, atau kepasrahan yang terekam pada sendi dan urat permainan.
Kekuatan Kropos adalah ia menghadirkan kritik politik tanpa slogan. Ia menggunakan estetika untuk menebar kesadaran: penonton pulang dengan perasaan ganjil—bukan dengan pengetahuan faktual tentang kebijakan pembangunan, melainkan dengan tubuh yang masih berdetak, membayangkan perut yang mungkin lapar di luar gedung pertunjukan. Ini adalah strategi etis: meletakkan empati sebagai bentuk pengetahuan.
Bagi Teater Lho, Kropos adalah titik balik: ia membuat kelompok diakui sebagai penggerak teater eksperimental daerah. Terlebih lagi, produksi ini membuka jaringan: kolaborator visual, perupa, dan penata bunyi mulai lebih intens terlibat. Produksi memberi pesan bahwa teater lokal mampu melakukan pembacaan kritis terhadap kondisi sosial tanpa harus meniru format metropolitan; ia menemukan bahasa spasialnya sendiri.
IV. Tanda Silang (1995)
(Saduran: Where the Cross is Made — Eugene O’Neill; versi Rendra; Sutradara: R. Eko Wahono)
Where the Cross is Made adalah teks berat: eksplorasi kegilaan, penebusan dosa, dan warisan trauma. W.S. Rendra sebagai pengalihbahasa telah menempatkan teks itu dalam idiom yang puitis dan lokal.
Eko mengambil bahan ini pada 1995, menyajikannya kepada penonton sebagai meditasi psikologis yang intens. Pilihan ini menunjukkan keberanian: menangani tema kegilaan moral, kanibalisme simbolik, dan warisan trauma di panggung kecil di NTB—bukan pertunjukan ringan untuk festival.
Di pusatnya adalah seorang Kapten tua—seorang mantan pelaut yang mengurung diri dalam dunia yang diasosiasikan dengan kapal Marlini—dan dua anaknya (Darpo dan Nani). Kapten hidup pada ilusi peta benda berharga (tanda silang), yang menjadi titik obsesinya. Darpo, yang cacat dan terluka oleh takdir, menjadi figur tragis yang terbelah: kebencian terhadap ayah dan keterikatannya pada warisan ilusi.
Eko menafsirkan hubungan keluarga ini sebagai alegori generasi: ayah mewakili masa lalu yang tak tertangani (dosa yang menempel), anak mewakili generasi yang ingin melepaskan tapi terseret oleh narasi lama. Puncak—pembakaran peta oleh Darpo yang justru diikuti teriakan Ahoy dari ayah—mengaburkan batas antara kebebasan tindakan dan kekuatan delusi.












