Ayub sebagai sutradara merumuskan lakon dengan beat yang dinamis: adegan-adegan bergeser cepat, humor ironi menyelinap ke dalam dialog, dan momen-momen satir tentang ritual formalitas birokrasi menumbuhkan tawa getir di penonton. Aktor Yadi Yhda Pramono dan Anik memberikan energi muda: spontanitas mereka menegaskan tempo pementasan yang berbeda dengan realisme intens Orang Kasar.
Penata cahaya Budi Semet dan artistik Yudi Winanto berperan penting membentuk nuansa panggung: permainan lampu kontras untuk menandai interior birokrasi vs ruang publik; penggunaan properti sehari-hari (tiket, palu stempel, meja) sebagai item ritus membuat kritik tampak familiar. Komunitas belajar pentingnya fragmentasi staging: adegan pendek sebagai unit energi yang disusun seperti baterai dramaturgi—memberi ritme pada produksi.
Kedewasaan tim dalam produksi Tuan Kondektur lebih terlihat pada proses daripada hasil. Eko yang memberi peluang pada Ayub menegaskan bahwa teater adalah proyek kolektif yang mesti merawat regenerasi. Praktik ini menumbuhkan kesetiaan dan integritas: para anggota belajar memimpin dan tunduk secara bergantian—keterampilan penting dalam kerja artistik yang berkelanjutan.
III. Kropos (1995)
Naskah & Sutradara: R. Eko Wahono
Pemain: Fariz Pathacombo, Abdul Manaf, R. Eko Wahono
Penata Artistik / Poster: almarhum L. Imtihan Taufan
Kropos menandai perubahan signifikan: Teater Lho beranjak dari teater teks (narasi) ke teater tubuh (post-dramatic), mengutamakan bahasa nonverbal: gerak, suara, cahaya. Peralihan ini tidak spontan; ia lahir dari kegelisahan artistik era 1990-an—zaman yang penuh tekanan ideologi pembangunan Orde Baru—yang mempengaruhi gagasan tentang kemajuan, kemiskinan, dan identitas.
Eko merespons dengan bentuk pementasan yang tidak lagi menceritakan secara terang, tetapi merasakan dan memanifestasikan kondisi batin masyarakat.
Secara konseptual, Kropos adalah gugatan pada narasi pembangunan yang linier. Di panggung, gedung beton kemajuan dipamerkan sebagai lapisan topeng; di baliknya tubuh-tubuh manusia rapuh dan lapuk. Judul—‘Kropos’ yang bermakna lapuk—menggarisbawahi perbedaan antara tampak dan hakikat: façade kemajuan vs realitas sosial yang korup.
Alihkan dialog naratif ke dalam repetisi gestural: adegan-adegan diatur sebagai sirkuit ritual yang memaksa penonton melihat ke dalam: tubuh yang patah, gerak berulang, bunyi napas yang tercekik. Figur aktor bukan tokoh berwatak melainkan potongan pengalaman kolektif—pekerja, ibu, anak, pria tua—yang bergerak menurut pola statistik sosial.












