Imaji Air Api: Simbol Perlawanan dan Tugas Kenabian

Kecenderungan puisi-puisi di buku imaji air api (2025), bagi Iin mengantarkannya pada pertanyaan berikutnya tentang bagaimana sesuatu yang bisa disebut hidup itu? Bila kita tak merasa ada manusia yang meng-ada dengan hidupnya, lebih tergantikan oleh kehadiran benda-benda yang menyandang sifat manusia, di manakah kemudian batas antara yang hidup dan yang mati itu?

“Pertanyaan serupa ini pun dihadirkan buku ini melalui puisi Kidung Kematian (Hal. 28): bagaimana harus bercerita/padamu merpati cantikku/manakala sayap tak ada. Apakah ia tetap sesuatu yang hidup manakala sayapnya tak ada? Apakah sayap yang tak ada tetap menjadikannya merpati?,” tanya Iin.

Dengan kecenderungan menyandingkan sifat manusia pada benda-benda yang tampak dalam buku ini, justru Iin memberi petunjuk yang menarik bahwa hal ini bisa menjadi pilihan pergulatan estetika puisi-puisi Agus K. Saputra di masa mendatang.

”Fokus utama bisa pada pencarian kreatif seputar puisi-puisi suasana, lebih bertumpu pada imaji nuansa ketimbang pada subjek yang terang serupa manusia. Pada kebanyakan puisi-puisi di mana yang benda lebih terlihat meng-ada dibandingkan yang manusianya, tersimpan tawaran imaji yang menarik sekaligus menantang,” tandas 5 (lima) besar Daftar Pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 Kategori Kumpulan Cerpen, lewat karya Mei Salon, ini.

BACA JUGA:  Urban Sufism Day 2024 Universitas Paramadina Siap Digelar

Lanskap Gersang

Bagi penata letak dan desain cover Tjak S Parlan, puisi-puisi Agus K Saputra dalam himpinan Imaji Air Api, kerap membentangkan suasana musim kering –lanskap berwarna gersang, baik secara terang benderang maupun bersembunyi di antara pengimajinasian larik-larik kata.

Diksi seperti ‘kering’, ‘mengering’, ‘kemarau’, ‘membatu’, ‘berguguran’, ‘dahaga’, ‘berserakan’, ‘peluh’, telah mempertegas cintraan visual lanskap berwarna gersang tersebu, (hal. 67).

“Bagi saya, puisi Harapan Para Jelata mencoba menghamparkan ‘musim kering’ yang bisa saja menggiring asosiasi pembaca kepada musim paceklik –sebagai sebuah metafora dari kemiskinan yang merupakan bagian dari krisis besar akibat pandemi, resesi ekonomi, menipisnya ketersediaan pangan yang membuat harga kebutuhan pokok tidak terjangkau oleh sebagian kalangan masyarakat kelas bawah (baca: rakyat jelata) dan kita tahu penyakit kronis yang bernama krisis ini (bisa saja) terjadi karena perubahan iklim. Sawah dan ladang yang gagal panen, hutan dan sungai yang kering akibat ulah manusia yang tidak bertanggungjawab dalam memperlakukan lingkungan,” tulis Tjak Parlan (hal. 69).

BACA JUGA:  Buku Puisi "Keagungan Kota Suci" Diluncurkan di Kairo Mesir

Lanskap Gersang, tambah Tjak Parlan, juga bisa dirasakan pada beberapa puisi lainnya. Puisi “Pulang Membawa Rezeki” merupakan tanggapan sosial terhadap masyarakat “kalangan bawah”, dengan latar suasana yang benar-benar kering kerontang. Bau pengap tumpukan sampah yang tepanggang matahari, peluh yang bercucuran mempertajam suasana tersebut. Namun demikian, puisi ini tidak menyerahkan dirinya pada puncak kesedihan. Agus K Saputra justru memberikan cercah harapan –bahkan kebahagian—lewat senyum serorang perempuan (ibu) (hal. 78).