Hari Ayah; Perayaan yang Tidak Menyediakan Kursi

“Terima kasih sudah datang,” kataku. Kalimat yang terasa terlalu kecil.

Andi menatapku. “Aku tidak salah, kan, Bu?” tanyanya pelan. Pertanyaan itu bukan soal rapor, tapi tentang keberadaannya.

Aku ingin menjawab sebagai guru. Tapi yang keluar adalah suara seorang dewasa yang menyesal.

“Tidak, Andi. Kamu tidak salah,” kataku sambil melempar senyum.

Ruang kelas itu sunyi sesaat. Dalam sunyi itu aku sadar, kami terlalu sibuk merayakan peran ayah sampai lupa memastikan bahwa tidak semua anak lahir dengan cerita yang lengkap.

Sekolah sering mengajarkan keadilan lewat buku pelajaran. Tapi pagi itu, kami mengajarkan sebaliknya—bahwa kebijakan bisa terasa seperti hukuman bagi anak yang hidupnya tidak direstui semesta.

Seorang ayah di kursi tengah setengah berbisik kepada anaknya—mungkin tanpa maksud apa-apa.

“Kasihan ya, tidak ditemani ayahnya.”

Ibu Andi tersenyum tipis, “Tidak apa-apa,” katanya pelan.

“Kami sudah terbiasa,” lanjutnya.

Kalimat itu bukan tanda menyerah, tapi tanda bertahan.

Andi menatap ibunya. “Maaf, Bu,” katanya lirih.

Ibunya menggeleng. “Kamu tidak salah apa-apa.”

BACA JUGA:  Pelangi di Lorong Daeng Jakking

Andi kemudian pamit pulang bersama ibunya. Tidak ada foto bersama. Ruang kelas kembali seperti biasa. Tapi sejak hari itu, aku belajar bahwa sekolah bukan tempat untuk membuktikan siapa yang lengkap, melainkan ruang untuk memastikan tidak ada anak yang merasa kurang.

Kebijakan boleh lahir dari niat baik, tetapi empati harus selalu datang lebih dulu. Sebab kebijakan yang lupa pada kenyataan bisa melukai tanpa suara, dan perayaan yang tidak menyediakan kursi bagi semua, akan meninggalkan anak yang pulang dengan kepala tertunduk.