NusantaraInsight, Makassar — Akademisi dan Sutradara Teater Dr Asia Ramli Prapanca yang hadir sebagai pembicara bersama Anil Hukma (Penyair dan akademisi), Irwan AT (Seniman dan Jurnalis) dan dipandu dengan sangat hati-hati oleh Damar I Manakku (Penulis) pada Diskusi Buku Ibu dan Ibu, Gaib di HUT Ikatan Penulis Muslim Indonesia (IPMI), Rabu (24/12/2025) mengungkapkan pesan moral pada Cerpen karya M Amir Jaya yang berjudul Tubuh Ibu Bau Harum Kasturi.
Acara yang digelar di Kafebaca Jalan Adhyaksa Makassar ini, Asia Ramli yang akrab disapa Ram Prapanca mengungkapkan bahwa seorang cerpenis Muhammad Amir Jaya dalam cerpennya “Tubuh Ibu Bau Harum Kasturi” tersirat pesan moral dan kemanusiaan, terutama mengenai hubungan antara orang tua dan anak.
“Cerpen ini membawa pesan kuat bahwa kasih sayang dan perhatian sebaiknya diberikan selagi orang tua masih hidup. Mirawati dan Nurhayati memiliki niat baik untuk menjemput ibunya, namun rencana tersebut terlambat dilakukan. Cerita ini memberikan pelajaran kepada kita, bahwa jangan menunda-nunda waktu untuk berbakti kepada orang tua, karena maut tidak pernah menunggu kesiapan kita,” paparnya.
“Cerita yang ditulis Amir Jaya ini menggambarkan realitas sosial di mana anak-anak sukses meniti karier dan berkeluarga di perantauan, namun meninggalkan orang tua mereka dalam kesendirian. Ibu Herlina digambarkan hidup dalam “sepi dan sunyi” meskipun ia berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga sarjana,” lanjut Akademisi UNM ini.
“Pelajaran yang bisa dipetik adalah kesuksesan anak seringkali dibayar dengan kesunyian orang tua. Penting bagi anak untuk tetap menjaga komunikasi dan kehadiran fisik bagi orang tua yang sudah lanjut usia,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa: “Bau harum kasturi yang keluar dari jenazah Ibu Herlina merupakan simbol religius yang melambangkan kemuliaan dan kesucian. Meskipun hidup dalam keterbatasan dan kesendirian, ia tetap menjaga ibadahnya (meninggal dalam keadaan mengenakan mukena dan memegang tasbih).”
“Pelajaran kedua yang bisa dipetik adalah ketulusan seorang ibu dalam membesarkan anak tanpa mengeluh, serta keteguhannya dalam beribadah, akan membuahkan akhir yang baik (husnul khotimah),” ulas Ram.
Lebih dalam Ram menerangkan bahwa Ibu Herlina dan suaminya (Dg Gassing) bekerja keras dengan gaji terbatas demi pendidikan anak-anaknya. Namun, setelah anak-anaknya berhasil, sang ibu justru berakhir sendirian di rumah panggung tua.
“Pelajarannya adalah Kita diingatkan untuk merefleksikan kembali seberapa besar pengorbanan orang tua kita dan apakah kita sudah cukup menghargai pengorbanan tersebut sebelum mereka tiada,” terang Ram.












