Adil Akbar, Menulis Cerpen Sebagai Metode Pembelajaran Sejarah

“Saya suka menulis di warkop atau kafe. Bahkan saya tidak terganggu bila warkop atau kafenya lagi ramai,” terangnya.

Selain tema sejarah dan budaya, dia juga menulis tema-tema berdasarkan pengalaman pribadi sebagai mahasiswa maupun guru.

Rusdin Tompo mengapresiasi penulis cerpen yang biasa menulis nama panjangnya Adil Akbar Ilyas Ibrahim ini. Dia menilai, ada upaya serius dari penulis untuk menyuguhkan cerpennya secara baik.

Bayangkan, ketika dia mau menulis satu cerpen, tak jarang dia membaca 6 buku. Membaca baginya adalah kebutuhan untuk bisa menghasilkan karya buku. Bagai 2 sisi dari keping mata uang logam.

“Cerpen-cerpen Adil Akbar punya kekuatan pada tema lokal, menggambarkan potret gaya hidup urban, di mana kafe dan warkop sebagai tempat kerja,” papar Rusdin Tompo.

Segi yang menonjol lainnya dari cerpen-cerpen Adil Akbar, lanjut penulis dan penggiat literasi itu, yakni pada nilai sejarah, dan aspek multikultur atau keberagaman etnis yang ditulis dengan pendekatan humanis. (*)

BACA JUGA:  Post-Truth, Gemini, dan REP #6 di Bulan Juni