Ditemani Juhaiman, Muhammad Abdullah, berdiri di tempat yang tepat seperti yang digambarkan Nabi di bawah bayangan Kakbah, di antara kuburan Ismail dan Hajar. Juga sebuah batu besar, tempat terdapat jejak kaki Ibrahim.
’’Atas nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Inilah Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu,’’ seru Juhaiman.
’’Bersumpah setialah kepada saudara Muhammad Abdullah Al-Quraisy,’’ lanjut Juhaiman menyebut mahasiswa penyair itu dengan nama yang semua orang di tempat tersebut tahu bahwa itu nama Nabi Muhammad sendiri.
Padahal, nama lengkap orang yang menyebut dirinya Mahdi itu adalah Muhammad Abdullah al-Qahtani.
Dia adalah mahasiswa Riyadh yang pernah ditahan oleh Menteri Dalam Negeri Saudi Pangeran Nayif, bersama dua puluh lima orang pengikut Juhaiman lainnya.
Untuk memulai pemberontakannya, Juhaiman dan Muhammad Abdullah berhasil meluncurkan tiga mobil bak terbuka masuk ke dalam Masjidil Haram setelah menyuap para penjaga masjid 40 ribu real, melalui akses jalan Bin Laden (pemilik perusahaan yang membangun tempat suci itu).
Mobil-mobil tersebut dipenuhi persenjataan, amunisi, dan makanan. Keduanya juga menyuruh para mahasiswa agama yang menempati kamar-kamar di lantai dasar masjid pulang ke rumahnya dan bertemu dengan keluarganya masing-masing.
Mereka mengatur posisi. Mengunci semua pintu dan akses ke dalam masjid. Sejumlah penembak tepat (sniper) mengawasi setiap gerakan yang mendekati masjid dari ketinggian 89 meter. Dengan posisi tersebut, para pemberontak dengan mudah melibas setiap benda bergerak yang mendekati masjid.
Salah seorang korban pertama yang menemui ajalnya adalah Kolonel Nasir al-Humaid, Komandan Batalion Pasukan Terjun Payung VI Saudi yang semula menolak melakukan penyerangan setelah melihat medan yang sulit. Dia terpaksa melaksanakan tugasnya setelah ’disemprot’ oleh atasannya.
Pemerintah Kerajaan Saudi menganggap pemberontakan Juhaimin ini sebagai ’insiden domestik’ yang hanya dalam waktu tiga hari sudah dikuasai. Namun, pemerintah kerajaan yang tidak mau kehilangan muka di mata dunia, terpaksa berbohong kepada publik.
Dunia Islam kemudian bertanya-tanya apa sebenarnya yang telah terjadi di Masjidil Haram? Sebab, untuk pertama kali dalam sejarah Islam, Masjidil Haram tidak menggelar salat Jumat antara tanggal 20 sampai 29 November 1979. Siaran langsung TV Saudi yang biasa dilakukan pada hari Jumat dari Masjidil Haram terpaksa menayangkan siaran langsung salat Jumat dari Masjid Nabawi di Madinah.
Tidak ada jumlah pasti berapa banyak korban dalam pemberontakan tersebut, tetapi yang jelas terbanyak datang dari tentara pemerintah. Terdapat pula korban tewas dari jamaah haji asal Indonesia.












