Ia kemudian memimpin kantor P3M (Pemberantasan Penyakit Menular), lembaga yang bekerja sama dengan UNICEF PBB. Di sanalah ia mengabdikan sisa hidupnya hingga pensiun sebagai Pegawai Negeri Sipil.
Dalam kesederhanaannya, tak ada yang tahu bahwa darah pejuang mengalir dalam dirinya. Ia tak pernah bercerita, tak pernah menyebut jasa. Tak pernah sekalipun ia minta dihormati. Ia hanya bekerja, mengabdi untuk orang banyak, dan di masa pensiun selama 18 tahun mengurus warga sebagai ketua RW.
Dan kini, setelah kepergiannya, barulah bangsa ini tahu: pahlawan tak selalu datang dengan seragam, senjata, atau pangkat. Kadang, mereka hidup di sekitar kita—dalam sosok yang sederhana, diam, dan rendah hati.
Haji Katutu Daeng Matike adalah satu di antara mereka:
Pahlawan yang tak mau dikenal.
Karena bagi beliau, kemuliaan tidak terletak pada pengakuan manusia, tetapi pada keikhlasan berbuat untuk negeri yang dicintai.
Makassar, 10 November 2025












