Pada masa pemerintahan Tunipalangga ini juga dibuat timbangan, dacin, anak timbangan dan sejenis takaran yang disebut gantang (untuk beras ukuran 4 liter) dengan bahan tembaga.
Hubungan Kerajaan Gowa dengan pihak luar semakin kuat. Banyak perantau dan orang asing menetap di Kerajaan Gowa yang membuat kerajaan ini mengalami kemajuan dan perkembangan yang pesat. Perdagangan makin maju dengan posisi bandar (pelabuhan) yang sangat strategis.
Islam masuk ke Kerajaan Gowa di bawah pemerintahan Raja Gowa XV, I Mangerangi yang kemudian dikenal dengan nama Sultan Alauddin.
Ia diislamkan oleh Abdul Makmur Khatib Tunggal yang kemudian lebih dikenal dengan nama Datok ri Bandang, dari Minangkabau. Sebelumnya Raja Tallo sebagai Mangkubumi (Perdana Menteri) telah pula memeluk agama Islam.
Di tengah zaman keemasan yang dialami Kerajaan Gowa tersebut, pada tahun 1596, Cornelis de Houtman, orang Belanda pertama sampai di Pelabuhan Banten. Belanda ini kemudian bersengketa di Indonesia dengan Portugis, terutama di laut pantai Jawa Barat. Kehadiran Belanda ini diikuti pendirian “Verenigde Oost Indische Compagnie” (VOC), lebih dikenal dengan nama Kompeni.
Kehadiran Kompeni membuat keadaan di Indonesia, khususnya di Kerajaan Gowa mulai dilanda konflik. Belanda menerapkan politik “devide et impera” (memecah dan menguasai).
Tidak mampu mengalahkan Kerajaan Gowa, Belanda tidak kehabisan akal. Dia bersekutu dengan Kerajaan Bone yang saat itu dipimpin La Tenritatta yang lebih dikenal dengan Arung Palakka.
Peperangan satu lawan dua ini akhirnya membuahkan Perjanjian Bungaya (1667) yang memaksa Gowa harus mengakui monopoli dagang VOC dan menyerahkan wilayah kekuasaannya, termasuk Bone di bawah Arung Palakka, membangun benteng Fort Rotterdam, Gowa membayat ganti rugi perang,, dan menutup pintu Gowa terhadap pedagang asing kecuali VOC.
Sultan Hasanuddin menggantikan ayahnya Sultan Muhammad Said yang membawa Kerajaan Gowa pada akhir keemasannya, berkuasa dan berperang dengan Kompeni yang dibantu Arung Palakka.
Perang tidak sebanding ini mengakibatkan benteng utama Sombaopu jatuh ke tangan Belanda pada tanggal 24 Juni 1669.
Lima hari kemudian, 29 Juni 1699, Sultan Hasanuddin mengundurkan diri dari pemerintahan. Dia menyerahkan takhta kerajaan kepada putranya, Amir Hamzah yang masih belia, 13 tahun. Pada tanggal 12 Juni 1670 Sultan Hasanuddin wafat dalam usia yang boleh dikatakan masih muda, 39 tahun.
Begitulah anomali Makassar Menuju Kota Dunia perlu diluruskan. Seharusnya, Makassar kembali menjadi kota dunia, karena pada pertengahan abad XVII sudah menjadi kota dunia!
Pierre dan Dauphin de Macassart
Dalam diskusi buku ini nama Dg. Mangalle termasuk yang menjadi isu sentral. Ketika mendengar nama ini disebut-sebut, bahkan diharapkan menjadi wacana yang akan terus diaktualisasikan ke depan, saya teringat pada tahun 2002. Pada tahun itu saya bersama Hasrullah mengedit sejumlah naskah yang ditulis oleh Hamzah Daeng (HD) Mangemba yang kemudian saya beri judul “Takutlah Pada Orang Jujur”.












