Kembali Jadi Kota Dunia & Dg.Mangalle

Kota dunia
Peserta diskusi buku Sejarah Makassar foto bersama (foto istimewa)

“Maksud yang baik ini saya terima dengan baik. Saya senang kehadiran kalian di sini. Hendaknya kalian berusaha keras supaya perdagangan maju. Demikian pula bea masuk dan bea keluar dapat diatur dengan saksama. Lagipula harus dijaga supaya pedagang dapat berusaha dengan aman. Jangan sampai mereka mendapat kesulitan dari orang-orang yang tidak bertangung jawab,” jawab Raja Tunipalangga bernada mengingatkan. (Sutrisno Kutoyo & Mardanas Safwan).

Masuknya rombongan pendatang tersebut, kemudian diikuti oleh para pedagang mancanegara lainnya. Makassar (Gowa) kala itu sudah berhubungan Gubernur Spanyol di Manila Filipina, Raja Muda Portugis di Goa (India), dan Raja Makkah di Arab Saudi. Setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511, Makassar pun menjadi salah satu daerah pelarian dispora Melayu.

Kehadiran Melayu ini terjadi di beberapa daerah lainnya di Indonesia, seperti Batavia, Manado, Ambon, Bima, dan sebagainya. Mereka ini kemudian membentuk komunitas yang hidup dan bertempat tinggal dalam perkampungan yang dikenal dengan Kampung Melayu.

Jasa besar orang Melayu ini adalah penggunaan bahasanya yang kemudian diangkat sebagai bahasa nasional Indonesia sekarang. Banyak orang bertanya, mengapa bukan bahasa Jawa yang memiliki penutur jauh lebih banyak tidak dipilih sebagai bahasa nasional Indonesia?

BACA JUGA:  Garassi dan Cerita Tentang Tumanurung

Dalam catatan disebutkan, bahasa Melayu sudah merupakan “lingua franca” (bahasa pengantar) antarsuku bangsa di Nusantara pada masa lalu. Diaspora Melayu ini secara tidak langsung “mengajarkan” bahasa mereka pada suku-suku tempat mereka bertandang.

Bahasa Melayu tidak mengenal stratifikasi/tingkatan, seperti yang dikenal dalam bahasa Jawa (ngoko, kromo, dan sebagainya). Strukturnya yang sederhana memudahkan masyarakat pengguna lebih mudah berkomunikasi dengan masyarakat lainnya.

Bahasa Melayu sudah digunakan pada masa pemerintahan masa lalu, seperti pada saat Kerajaan Sriwijaya, sehingga memperoleh pengaruh bahasa lain, seperti bahasa Sansekerta, bahasa yang digunakan dalam Kitab Wedha (agama Hindu).

Juga bahasa Arab yang masuk melalui para pedagang Arab lewat Gujarat. Bahasa Indonesia juga memperoleh pengaruh bahasa asing lain, seperti Belanda pada masa penjajahan Belanda, Portugis, Spanyol, dan sebagainya.

Bahasa Melayu melalui diasporanya, pun menyebarkan kebudayaan. Misalnya kita mengenal lagu berirama Melayu yang pada tahun 60-90-an terkenal dengan Orkes Melayu.

Kita masih ingat Rhoma Irama dengan Orkes Melayu “Sonata”-nya. Lagu berirama Melayu dengan suara yang mendayu-dayu bertransformasi menjadi lagu dangdut yang tidak lain adalah lagu Melayu yang berirama pop.